Thursday, August 28, 2008

[Tips] Nulis Cerpen

Tema
Sebaiknya kamu memiliki tema yang jelas saat menulis cerpen, tentang cerita seperti apa yang ingin kamu tulis. Pesan apa yang ingin kamu sampaikan kepada pembaca. Dengan adanya tema, yang menjadi tulang punggung cerita, maka cerpen kamu akan meninggalkan kesan tersendiri pada pembaca. Penetapan tema dari awal juga berguna agar saat menulis kamu tidak terlalu jauh melenceng dari cerita sudah ditetapkan.

Alur cerita
Fokuslah pada satu alur cerita sesuai dengan tema yang sudah ditetapkan sebelumnya. Karakter tambahan, sejarah, latar belakang, dan detail lainnya sebaiknya memperkuat alur cerita ini. Percabangan alur cerita so pasti harus dihindari!

Karakter
Jangan menggunakan jumlah karakter yang terlalu banyak. Semakin banyak karakter bisa membuat ceritamu jadi terlalu panjang dan tidak fokus pada tema. Gunakan karakter secukupnya yang sesuai dengan alur cerita.

Sepenggal kisah hidup
Namanya aja cerita pendek, jadi cerpen cuma menceritakan tentang secomot kisah dalam hidup karakter yang kamu buat. Kalau karakter kamu memiliki kisah hidup yang sangat panjang, tulis hanya sebagai background yang menjadi penguat tema cerita kamu. Tekankan hanya pada satu bagian dari hidupnya untuk ditulis, jangan semuanya.

Penggunaan kata
Bagaimanapun cerpen memiliki keterbatasan dalam jumlah kata yang bisa dipakai, apalagi cerita super pendek seperti flash fiction. Seringkali majalah atau koran tertentu bener-bener membatasi jumlah kata yang bisa dipakai. Jadi, kamu sebaiknya menggunakan pilihan kata yang efisien dan menghindari menggunakan kalimat deskriptif yang berpanjang-panjang.

Impresi
Secara tradisional, cerpen dimulai dengan pengenalan karakter, konflik, dan resolusi. Alternatif lain, adalah kamu dapat membuat impresi pada pembaca justru pada awal cerita, dengan langsung menghadirkan konflik. Karakter kamu sudah berada di dalam kekacauan besar. Hal ini akan membuat pembaca semakin penasaran, ada apa yang terjadi sebenarnya, bagaimana karakter itu akan mengatasi persoalannya. Pengenalan karakter, setting, dll dapat dilakukan secara perlahan-lahan di bagian cerita berikutnya.

Kejutan
Beri kejutan pada pembaca di akhir cerita. Hindari membuat akhir cerita yang mudah ditebak!

Konklusi
Jangan biarkan pembaca meraba-raba dalam gelap pada akhir cerita kamu. Pastikan konklusi di akhir cerita Anda memuaskan, tetapi juga gak mudah ditebak. Pembaca perlu dibuat berkesan pada akhir cerita, tentang apa yang terjadi pada karakter tersebut. Akhir cerita yang mengesankan akan selalu diingat oleh pembaca, bahkan setelah lama mereka selesai membaca cerita tersebut.

Sumber : http://www.escaeva.com/tips/menulis_cerpen.htm

Gramedia Pustaka Utama

GPU & Fokus Terbitannya

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama (GPU) adalah penerbit buku-buku umum, artinya buku-buku yang dimaksudkan untuk konsumsi umum, karena merupakan referensi atau bacaan umum, mulai dari anak-anak, remaja sampai dewasa, mencakup buku fiksi maupun non-fiksi. Itulah main business kami. Tetapi, adalah fakta bahwa banyak di antara buku kami juga dipakai sebagai buku teks. Karena itu, kami juga memiliki Desk Buku Teks, yang secara khusus bertanggung jawab atas buku-buku teks perguruan tinggi yang kami terbitkan. (Untuk buku teks bagi siswa SMU ke bawah, silakan anda menghubungi sister company kami: Penerbit Grasindo).Buku-buku umum yang kami terbitkan adalah buku-buku yang mengandung nilai-nilai yang sejalan dengan mission statement kami, yaitu "Bersama komponen bangsa yang lain, ikut serta menciptakan Indonesia Baru dengan nilai-nilai humanisme transendental." Karena itu, buku yang kami terbitkan adalah yang mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan yang beriman kepada Sang Pencipta dan Pemelihara, yaitu Tuhan Semesta Alam. Itu berarti bahwa kami akan menerbitkan buku yang mendorong munculnya semangat pluralis, demokratis, inklusif, cerdas, berwawasan luas, profesional, berbudaya, humanis, dan religius. Sebaliknya, kami mengindari penerbitan naskah yang mendorong semangat fanatik sempit, picik, anti-refleksi dan anti-pembelajaran, pelecehan terhadap kemanusiaan.Dewan Penilaian NaskahUntuk menilai kelaikan terbit suatu naskah, kami memiliki Dewan Penilaian Naskah, yang terdiri dari wakil-wakil dari Redaksi, Produksi dan Pemasaran/Promosi, yang dari perspektifnya masing-masing akan memberi rekomendasi terhadap suatu naskah untuk terbit atau tidak terbit. Terasah oleh pengalaman, masing-masing akan mengembangkan perspektif mereka, tetapi: Secara khusus Redaksi akan menilai naskah dari mutu isinya: kesesuaian dengan misi, kedalaman dan kelengkapan informasinya, bagaimana pentingnya topik/tema naskah (importance), bagaimana relevansinya, bagaimana penyajiannya (urutan logis atau sistematika pemaparan dan gaya bahasanya), apa keunggulan dan kelemahan naskah tsb dibandingkan dengan buku yang sudah beredar di pasar. Secara khusus wakil dari Produksi akan menilai naskah dari sisi produksi dan pembiayaannya: kemudahan/kesulitan produksinya, proses yang harus dilalui, perkiraan besar ongkos produksinya. Secara khusus wakil dari Pemasaran/Promosi akan menilai naskah dari serapan pasarnya (marketability): apakah akan disambut pasar dengan gairah atau sebaliknya? Berapa ribu akan terserap pasar dalam setahun? Berapa lama naskah itu akan bisa hidup di pasar, akan terus dibutuhkan atau hanya menjawab kebutuhan sesaat? Kadang-kadang Dewan juga minta pertimbangan dari para ahli, termasuk dari kalangan perguruan tinggi, atas naskah-naskah tertentu.

Quadran Penilaian

Dengan menggunakan kata MUTU untuk mutu naskah dan kesesuaian dengan misi kami, serta kata LAKU untuk serapan pasar, terciptalah quadran penilaian sbb:

Quadran 1: Mutu Tinggi & Laku Keras
Inilah primadona kami. Lampu hijau langsung kami berikan untuk segera menerbitkan naskah yang masuk dalam quadran ini.

Quadran 2: Mutu Rendah Tapi Laku Keras
Ini lampu kuning. Kalau mutunya "tidak jeblok-jeblok amat", dan penerbitannya TIDAK menimbulkan opini umum "Gramedia kampungan!", kami masih mau menerbitkan naskah dalam quadran ini. Tapi, ya itu tadi tidak terkesan "MELACURKAN DIRI" atau muncul pendapat sinis "HUH, GRAMEDIA CUMA CARI UNTUNG DENGAN MENJUAL SAMPAH!"

Quadran 3: Mutu Tinggi tapi Tak Laku
Ini lampu kuning. Demi standing kami, kami mau menerbitkan naskah-naskah yang masuk dalam quadran ini. Inilah sumbangan sosial kami. Kalau dana kami untuk ini sudah habis, kami mengusahakan cara lain:Minta pihak kedua (penulis) untuk membeli sebagian agak besar dari bukunya pada saat terbit. Menggandeng pihak ketiga untuk ikut dalam pembiayaan, semacam co-publishing, dan logo pihak ketiga itu boleh tampil di cover.

Quadran 4: Mutu Rendah & Tak Laku
Ini lampu merah. Kami tak ingin cari penyakit. Naskah di quadran ini hanya bikin malu penerbit dan penulisnya... sudah malu, rugi lagi!

Prosedur

Bila anda memiliki naskah-naskah yang sejalan dengan misi kami, dengan senang hati kami akan mempertimbangkan penerbitannya. Prosedurnya adalah sbb:

1. Kirim naskah Anda (lengkap, dibendel agar mudah dibaca) ke Redaksi Gramedia Pustaka Utama, Gedung Kompas-Gramedia, Jl. Palmerah Selatan 24 -- 26, Lt. 6, Jakarta 10270

2. Lengkap berarti: naskah itu 100% komplit, termasuk gambar-gambar, walaupun gambar-gambar itu hanya kopi dari aslinya, bukan masternya. Ini penting karena master gambar-gambar itu berikut data elektronik naskah tersebut baru akan diserahkan ketika sudah jelas kami putuskan untuk diterbitkan. Ini menjadi sarana pengaman bagi Penulis agar, andaikata ditolak oleh GPU dan naskah itu mau ditinggal di GPU, hanya kopian yang dimiliki GPU (lihat relevansinya dengan point 4 & 5).

3. Sertakan informasi mengenai:
1) Apa keunggulan naskah tsb dibandingkan dengan buku yang sudah ada di pasar?
2) Siapa pembaca sasarannya? Siapa saja yang berkepentingan dengan naskah buku tsb, dan seberapa besar populasinya?
3) Dalam perkiraan Anda, dengan populasi orang yang bekepentingan seperti itu, kira-kira berapa banyak buku yang bisa diserap pasar selama 12 bulan, bila kita memasarkannya hanya lewat jaringan toko buku?
4) Apakah Anda memiliki forum di mana naskah tsb akan digunakan bila sudah terbit? (misal: "Saya adalah dosen dengan mahasiswa 50 orang per semester, dan rekan-rekan saya juga akan memakainya") Bila "ya", berapa banyak Anda sendiri akan menyerap buku tersebut dalam setahun?
5) Apakah akan ada event tertentu yang menciptakan momentum yang menguntungkan publikasi naskah tersebut. (Misal, "Bulan xxx tahun zzz akan ada Nasional Seminar On bla bla bla, dan buku ini akan di-launch di sana" atau "Saya akan melakukan in house training untuk 500 karyawan PT yyy, bulan bbb tahun ttt, dan buku ini akan dipakai sebagai panduan.")

4. Atas pengiriman itu, Anda akan menerima Tanda Terima, di mana dicantumkan formula standar yang antara lain mengatakan bahwa selambat-lambatnya dalam 3 bulan akan ada keputusan mengenai terbit atau tidaknya. Keputusan bisa cepat (7 hari kerja), bisa lambat, antara lain juga tergantung pada informasi-informasi (pertanyaan 1 - 5) tsb, di samping pada tumpukan naskah yang harus kami nilai.

5. Bila naskah tidak akan diterbitkan, GPU akan mengirim balik naskah tersebut, bila disertai prangko secukupnya. Bila tidak disertai prangko secukupnya, atau bila dikehendaki oleh penulisnya untuk diserahkan kepada GPU, kami sedapat mungkin akan menjaga kerahasiaannya, dan tidak akan menyerahkan kepada pihak lain untuk diterbitkan atas nama siapa pun. Tetapi, karena secara berkala kami membersihkan naskah-naskah tua, selalu ada kemungkinan bahwa naskah seperti itu jatuh ke pihak ketiga yang tidak dimaksudkan, baik oleh penulis maupun GPU, dan bisa jadi pihak ketiga itu memanfaatkannya secara tidak bertanggung jawab, tanpa seizin penulis atau GPU. Bila ini terjadi, GPU tidak bertanggung jawab atas kejadian seperti itu.

6. Bila naskah akan diterbitkan, kirimkan data elektronik berikut master gambar/foto/sket. Waktu terbitnya dirundingkan. Perlu diketahui bahwa pada saat kami memutuskan suatu naskah akan terbit, kami sedang melakukan proses penerbitan naskah-naskah lain yang jadwal terbitnya sudah mengisi standing order mingguan ke jaringan toko buku untuk 2 bulan ke depan. Artinya, naskah yang baru saja diputuskan untuk diterbitkan itu paling cepat bisa terbit 10 minggu kemudian, kecuali ada kondisi khusus yang memungkinkan kami untuk mempercepatnya.

Hak Penulis

Penulis atau pemilik naskah yang naskahnya diterbitkan di GPU memiliki hak-hak sbb:

1. Royalty sebesar 10% (sepuluh persen) dari harga jual, sebelum PPn sebesar 10%, kecuali bila pajak itu ditanggung pemerintah. Buku-buku yang pajaknya ditanggung pemerintah adalah buku-buku yang dimaksudkan untuk pengajaran. Buku-buku yang termasuk "hiburan" (novel misalnya) dikenai PPn 10%.

2. Pada saat penandatanganan kontrak kerjasama penerbitan, atau selambat-lambatnya tigapuluh hari setelahnya, diserahkan uang muka 25% (dua puluh lima persen) dari total royalty. Sisanya dibayarkan per semester (pada bulan Februari dan Agustus) sesuai dengan penjualan pada semester yang sudah berjalan.

3. Pembayaran royalty ini dikenai PPh sebesar 15%.

4. Diskon otomatis sebesar 20% dari harga jual, untuk pembelian langsung kepada GPU, secara tunai, sebanyak 1 - 99 eksemplar; diskon 25% untuk sebanyak 100 - 199 eksemplar; dan diskon 30% untuk pembelian 300 eksemplar ke atas.

5. Berhak atas informasi mengenai jumlah cetakan, jumlah penjualan, jumlah stock fisik di gudang, harga jual, rencana cetak ulang, dan bila muncul keraguan atas informasi itu berhak menggunakan Akuntan Publik untuk memverifikasi/memfalsifikasi informasi tersebut.

6. Hak dan kewajiban secara lebih terperinci diatur dalam kontrak standar.

Penting!

Hindarilah:
1. Plagiat/pelanggaran hak cipta
2. Fitnah/pelecehan terhadap pihak lain

Tertarik untuk mencoba menerbitkan naskah anda? Kami tunggu!PT Gramedia Pustaka Utama Gedung KOMPAS Gramedia Unit II lt. 6, Jl. Palmerah Selatan 24-26, Jakarta 10270Telp. 5480888, 5483008, ext. 3202, 3206, 3200, 3231. Fax: 5300545

[Tips] Sebelum Ngirim Naskah

1. Baca dulu ketentuan pengiriman naskah
Soalnya terkadang tiap penerbit punya aturan masing2 dalam pengiriman naskah. Entah formatnya atau cara pengirimannya. Biasanya ini ditulis di website-nya kok, rajin2 search ya!

2. Cari tahu genre yang diinginkan penerbit
Ini penting! Kalo naskah kamu gak sesuai dengan genre yang diinginkan penerbit, kemungkinan besar naskah kamu langsung ditolak. Cara tahu nya? Coba beli sample buku yang diterbitkan penerbit tsb, terus baca deh...! ^^ Setidaknya kamu bakalan punya gambaran tentang jenis buku yang diinginkan penerbit.

3. Sertakan amplop dan perangko balasan
Lakukan hal ini kalo kamu gak mau naskah kamu dicemplungin ke laut seandainya ditolak. Hehehe... Ini kan cuma buat jaga2... Mending naskah kamu dibalikin kan daripada ilang entah kemana.

4. Sabar menunggu
Yg ngirim ke penerbit gak cuma kamu seorang. Jawaban untuk naskah kamu bisa didapat dalam hitungan minggu atau bahkan bulan. Biasanya sih sekitar 3 bulan paling lambat. Kalo dalam 3 bulan kamu gak dapet jawaban, kamu boleh telepon ke penerbitnya. Tapi tetep inget ama sopan santun kamu. Gak perlu teleponin penerbit tiap hari. Kasih waktu juga dong buat penerbit... ^^

5. Kirim yang terbaik
Sebelum kirim naskah kamu, usahakan kamu revisi naskahmu sendiri. Jangan ngirim naskah yang masih belepotan (banyak salah pengetikan atau layout masih berantakan)... Inget, kamu dinilai berdasarkan apa yang kamu kirimkan lho...

6. Jangan berdiem diri
Selagi naskah yang kamu kirim lagi diseleksi penerbit, coba buat naskah lainnya. Jadi seandainya kamu ditolak, kirim lagi naskah yang lain! Jangan patah semangat! Dan kalo bisa, bikin dengan tema yang berbeda dari sebelumnya... Dan kalopun naskah yang pertama ditolak, jangan langsung galo lobang terus dikubur. Coba revisi ulang lagi, dimana letak kesalahan kamu.

7. Terbuka pada kritik
Kalo naskah kamu dikritik penerbit dan minta direvisi, jangan sakit hati. Justru penerbit ngasih saran supaya naskah kamu bisa jadi lebih baik dari sebelumnya, dan jd laku di pasaran. Kalo laku, siapa yang seneng? ^^

8. Siap mental kalo ditolak
Jangan sampe kalo ditolak kamu langsung ngerasa down dan gak mo nulis lagi. Siapkan mental terlebih dulu. Inget, buku2 terkenal sekalipun pernah ngerasain berkali2 ditolak penerbit... Sapa tau nantinya naskah kamu punya nasib sama seperti buku2 itu?

Moga2 tips ini cukup membantu kamu ya ^^

[Tips] Bagi Waktu untuk Menulis

Sering ngerasa bingung gara2 gak punya waktu buat nulis? Semua punya waktu yang sama kok dalam sehari, yaitu 24 jam. Jadi kenapa kamu gak bisa sedangkan yang lain bisa? Kamu cuma butuh satu kok, kemauan ^^
Berikut sedikit tips yang mungkin bisa bantu kamu untuk dapetin waktu menulis.

1. Kurangi menonton TV.
Bagi yang hobi nonton TV, kamu mungkin gak sadar berapa lama waktu yang kamu habiskan di depan 'kotak ajaib' itu. Cobalah untuk sedikit-sedikit mengurangi nonton TV. Bukan berarti ngelarang untuk nonton TV lho, soalnya dari nonton TV pun kita bisa dapet ide.

2. Bawalah notebook kecil kemana saja.
Kalau kamu lagi pergi, pastilah kamu punya banyak waktu yang terbuang sia2. Misalnya nungguin lift, ngantri, atau bengong di salon *nunggu rambut selesai digunting contohnya*. Daripada kamu pakai waktumu buat baca majalah yang udah jamuran itu, mending kamu coret2 notebook kamu. Entah bikin draft cerita atau nulis ceritanya itu sendiri. Selain itu notebook juga berguna kalo kamu mendadak dapet ide di tengah jalan. Kita kan gak tau kapan ide bakalan melintas di kepala kita ^^

3. Manfaatkan waktu dengan efektif.
Cobalah untuk menghentikan aktivitas yang menurutmu gak penting. Misalnya bengong, ngelamun, tidur2an, dll. Selain itu, acara ngerumpi, gosip, hang out di mall, dll juga perlu dikurangi. Ini gak berarti gak boleh, karena sebagai penulis, interaksi dengan orang lain juga penting lho...

4. Disiplin membagi waktu dengan meluangkan waktu tertentu untuk menulis.
Ini tentu aja jadi syarat mutlak kalo kamu mau punya waktu menulis. Usahain dikit2 untuk meluangkan waktu. Misalnya, hapus kebiasaan suka nunda2 pekerjaan. Kerjain tugas2 kamu secepatnya supaya kamu punya waktu kosong untuk menulis. Sedikit waktu pun udah berharga lho, bisa jadi beberapa halaman.

Sumber : http://www.escaeva.com/tips/mencari_waktu.htm + edit2an dikit

Coming Back

Duh, setelah lama nggak pernah update lagi blog ini, akhirnya ada jg waktu untuk kembali... ^^
Moga-moga kali ini bisa update trus blognya supaya tetep rameee...
Tetep kunjungi ya all...

Friday, March 16, 2007

Hecate

“BAWEL!” Tiba-tiba sebuah teriakan bergema di pekarangan pondok itu, membuat Sam tersentak kaget dan rasa mualnya jadi sedikit kambuh lagi.
“EMANG APA URUSAN LO AMA GUE!” Suara itu kembali terdengar, sangat jelas di telinga Sam.
Dengan agak ragu-ragu pemuda itu mencoba mengintip dari balik pohon. Karena sudah malam, sosok orang itu tidak begitu terlihat jelas. Yang pasti, dia seorang cewek dan cewek itu tampaknya sedang menelepon seseorang. Mungkin mereka berdua sedang berada dalam pertengkaran besar, sampai-sampai berteriak histeris begitu.
“LO DENGER YA! KITA ITU UDAH NGGAK ADA URUSAN APA-APA. LO NGGAK USAH IKUT CAMPUR LAGI, TAU NGGAK?!” bentak cewek itu dengan kasar.
‘Gile sangar banget tuh cewek,’ gumam Sam kagum, meski ia agak merasa takut juga, hehehe.
Dari belakang, sosok cewek itu agak mirip Polly. Tinggi tubuhnya hampir sama, meski cewek ini agak lebih tinggi – menurut perkiraan Sam. Potongan rambutnya juga mirip, meski warnanya berbeda. Rambut cewek ini berwarna coklat, sedangkan rambut Polly berwarna pink mencolok.
“ALAAAHHH... NGGAK USAH NGOMONG LAGI DEH! GUE UDAH CAPEK!” teriaknya lagi dengan suara lantang. Nggak takut tetangga protes ya?
Sam agak menutup kupingnya, takut budeg. Habis, suara cewek galak itu bener-bener bikin sakit telinga sih. Mungkin dia sedang emosi dengan lawan bicaranya di telepon itu.
‘Ngomong-ngomong, canggih juga disini udah ada HP, meski kelihatannya masih model kuno...’ celetuk Sam sambil cengengesan. Padahal ini bukan waktu yang tepat untuk tertawa.
“BERISIK AH, SUKA-SUKA GUE DONG, DASAR COWOK TUA BANGKA!” maki cewek itu sambil melempar HP-nya sehingga tercemplung ke kolam ikan. “MATI SAJA SANA JADI MAKANAN IKAN!” cacinya sekali lagi.
Dengan langkah besar-besar, cewek itu berjalan ke arah Sam (ke arah pondok lebih tepatnya). Karena kejadian itu terlalu cepat, Sam bahkan tidak sempat menghindar. Maklum, saat ini dia sedang dalam keadaan tidak sehat. Untuk berjalan saja sudah sulit, apalagi lari? Sam cuma bisa berharap semoga cewek kasar itu tidak menyadari kehadirannya.

Tuesday, March 6, 2007

Dari Editor utk Calon Penulis

Taken from Pulau Penulis Indosiar. Posted by Luna_TR.
Jgn protes mulu kalau naskah yg kita kirim lama ditanggapinya! Nih, coba deh baca surat salah satu editor dari sebuah penerbit.. Jgn lupa intropeksi diri ya! ^^ Hehehe... Semoga bisa memberi kmu pencerahan ttg perasaan editor.
----------------
Dari Editor untuk Calon Penulis [Keluhan sang editor mahakuasa]
Ada tumpukan naskah di bawah meja. Naskah para calon penulis yang [tentunya] punya impian bukunya bisa diterbitkan THE publishing house of Indonesia. Sayangnya [sama sekali] tidak banyak yang layak terbit. Apa yang bisa diharapkan dari naskah-naskah malang itu kalau adegan pembuka-bab I-halaman 1-paragraf pertama selalu dimulai dengan

“Kring!” Hah, bunyi apa itu? Astaga, sudah jam tujuh! Duh, aku telat lagi deh!”


atau


Tok tok tok!!! “Shinta! Bangun! Kamu sekolah gak?” “Hah! Mama kenapa gak bangunin Shinta dari tadi? Ini sudah jam tujuh!” Lalu Shinta tergopoh-gopoh ke kamar mandi.


Dan keklisean itu msh ditmb bhs SMS ala gw-lo yg disngkt-sngkt n pnh tnda bc…………… sampai berderet-deret banyaknya!!!!!!!!!!!!!


Kalau saja para calon penulis itu tahu: Begitu editor tertentu [*cough* moi] membaca adegan klise seperti di atas---bahkan tak sampai satu paragraf---sang editor yang mahakuasa langsung menumpuknya di meja, menandainya dengan tulisan “TOLAK”, membubuhkan paraf serta tanggal, dan kadang-kadang memberi keterangan “Cerita basi”.


Bisakah Anda para pembaca membayangkan jalan cerita naskah semacam itu? Biasanya, naskah sejenis itu menceritakan kisah hidup sang penulis sendiri. Biasanya, sang penulis masih duduk di bangku SMP atau SMA. Biasanya, sang penulis berjenis kelamin perempuan. Biasanya, si tokoh gadis yang cantik dan populer naksir pemain basket yang ngetop tapi sikapnya dingin setengah mati. Biasanya, ada adegan di kantin sekolah atau di lapangan basket. Biasanya…

Dan akhirnya pun bisa ditebak: kedua tokoh yang tadinya musuhan akhirnya saling menyatakan cinta dan janji sehidup semati.

Tidak ada yang lebih basi daripada itu.

Marilah, hai, para calon penulis yang budiman. Berpikirlah. Gali bakat dan potensi Anda. Jangan sia-siakan sel-sel kelabu Anda. Dan bagi Anda yang sebenarnya tidak memiliki bakat dan potensi, sadarilah keberadaan Anda, dan tuangkanlah kreativitas Anda di bidang-bidang lain.

Jangan buru-buru menyatakan Anda sedang menulis buku hanya karena belakangan muncul penulis-penulis cantik [dan beken] yang karyanya berhasil menjadi best seller. Jangan buru-buru berpendapat, Ah, apa sulitnya menulis novel, cerpenku kan pernah dimuat di Aneka waktu SMA dulu. Jangan menganggap ketika novel [basi] itu akhirnya selesai, penerbit-penerbit akan berebut dan menawarkan royalti paling tinggi.

Banyak-banyaklah membaca. Banyak-banyaklah belajar dari karya orang lain. Mawas diri---kejar impian Anda bila Anda punya napas cukup panjang, atau lupakan saja bila faktor bakat, kemauan, dan kemampuan itu ternyata sangat terbatas. Bila Anda memang punya tiga faktor tersebut, silakan berkreasi, namun jadilah kreatif. Temukan sesuatu yang baru. Cari angle yang tidak biasa. Be creative.

Please.

Siska

Tanggapan editor lain :
Satujuh!!! Dan yg kusadari setelah menghadapi gunung naskah itu: penampilan sangat penting. Paling males baca naskah yg penuh tipp-ex, apalagi kalo coretan tangan terus ditambahi catatan (dg tulisan tangan juga).
Paling suka dapat naskah yg terjilid rapi, ketikan jelas, disertai riwayat hidup pengarangnya. Jadi kelihatan bahwa yg bikin itu "niat".
Oya, tolong juga tiap naskah disertai sinopsis, biar para editor yg mahakuasa ini agak semangat baca naskahnya (kalo sinopsisnya bagus).

Friday, February 16, 2007

Hecate

CHAPTER 03
= part 01 =

“Uggghhh...”
Sam berjalan terhuyung-huyung. Kepalanya sangat pusing. Perutnya seakan-akan dijungkirbalikkan dan dunia di hadapannya serasa berputar-putar seperti gasing. Sesekali ia berhenti berjalan untuk menenangkan gejolak dalam perutnya.
“Sam, kamu nggak apa-apa?” tanya Polly cemas. “Muka kamu pucat banget. Sampai-sampai nggak ada bedanya ama mayat hidup. Polly jadi serem nih!”
Dengan segenap kekuatan yang tersisa, Sam menggelengkan kepalanya – berusaha membuat Polly tenang. Kalau cewek itu panik, semua bisa jadi tambah parah! Tapi kalau dipaksa-paksa berjalan terus, rasanya dia juga mulai tidak kuat nih.
Polly memapah Sam. “Tahan sebentar ya Sam. Sebentar lagi kita sampai ke rumahku kok!” katanya mencoba menyemangati Sam yang persis orang mabuk darat laut dan udara sekaligus. Sam mengangguk tanpa ada perlawanan. Ia bahkan sudah tidak kuat untuk marah-marah. Rasa mualnya jauh lebih besar daripada rasa kesalnya sekarang.
Setelah beberapa menit berjalan, Sam dan Polly tiba di sebuah rumah tua, agak mirip pondok batu – menurut Sam. “Ini panti asuhan tempat Polly tinggal. Kamu tunggu sebentar di sini ya! Polly mau minta izin sama Bu Amaryl supaya kamu boleh tinggal di sini.”
Dengan esktra hati-hati, Polly mencoba menyandarkan tubuh Sam di pohon besar di depan panti. Setelah memastikan Sam tidak akan terjatuh, cewek itu buru-buru berlari masuk ke dalam pondok sambil berteriak-teriak memanggil Bu Amaryl. Entah siapa itu.
Sam menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan rasa sakit kepala dan rasa mual-mual di perutnya. Untunglah angin malam itu cukup bersahabat. Sebentar saja Sam memejamkan mata, ia sudah mulai merasa baikan.
“Dasar sial,” gumamnya pelan setelah ia sudah mampu untuk berbicara lagi. “Dikasih racun apa sih gue tadi. Gila, tuh makanan awalnya doang enak. Abis itu jadi enek! Mau muntah gue rasanya. Makanan orang sini emang aneh, selera rendahan. Restoran begitu kok bisa ramai?”
Sam mencoba melihat sekeliling. Memang benar, sepertinya ini sebuah panti asuhan. Kenapa Polly bisa tinggal di rumah seperti ini ya? Apa orangtuanya pemilik panti ini? Sam terus bertanya-tanya dalam hati. Sesekali ia menengok ke arah pintu, memastikan apakah Polly sudah kembali atau belum. Jangan-jangan, cewek itu kabur? Sial benar kalau begitu.

Saturday, February 10, 2007

[Tips] Karakter Novel yg Baik...

Taken from Pulau Penulis. Posted by Christian Simamora alias ino2cent...

1. Karakter utama kamu harus mengalami perubahan, minimal sekali. Tapi inget, karakter boleh mengalami perubahan, tapi jangan sampai mengubah sifat karakter tersebut.
Maksud lo, Ino? Maksud Ino niiih, dalam rentang waktu yang dibatasi plot, kamu harus membuat karakter novel kamu 'berubah', entah itu sisi psikologis, maupun fisik.

Misalnya, ambil novel Princess Diary. Di bab-bab awal, kerasa banget ya nggak pedenya si Mia Thermopolis ini? Nah, bandingin saat di bab-bab akhir. Ohh, dia jauh lebih kuat. Terlepas dia ngerasa nggak siap sebagai ahli waris tahta Genovia, buktinya dia belajar untuk KUAT dan mencoba menyukai status barunya itu. Ada PERUBAHAN kan?

Ato, novel Cintapuccino. Ami, tokoh utamanya mengalami perubahan drastis saat dia memilih Nimo ketimbang tunangannya. Itu juga PERUBAHAN.

Tapi pertanyaan Ino, di kedua novel itu, apakah sifat Mia dan Ami jadi berubah karena perubahan itu? Mia tetap nggak pede kok dengan keadaan dirinya.

2. Voice and Tone
Nah ini dia yang sering terlupakan. Kadang, saking asyiknya menulis novel, voice and tone (gaya bahasa si tokoh) suka kecampur-campur sama gaya bahasa si penulis. Pernah nggak kalian baca novel yang karakternya ancur abis (males belajar dsb) tiba-tiba ngeluarin kata-kata nasehat yang bijaksana? Ato, si karakter umurnya masih sepuluh tahun, tapi sering make kata-kata sulit? Ya dear, kalo ngerasa pernah ngelakuin itu di novel, coba deh dicek. Jangan-jangan di tengah cerita, karakter novelmu pelan-pelan bermetamorfosis jadi... kayak kamu! Aduh, gawat itu.

3. Tokoh harus menghadapi sendiri masalahnya dalam cerita
Dengan kata lain, jangan menggunakan tokoh lain untuk menyelesaikan masalah si tokoh. Misalnya, si tokoh terbelit hutang. Nah, kamu malah membuat si karakter akhirnya dibantu sama bokapnya. Dijamin, kalo kamu nulis seperti ini, pembaca bakal mencak-mencak. Mikirnya kira-kira begini, Ahhh, pantes aja masalahnya selesai... dibantuin bokapnya sih! Pembaca seneng tokoh yang mandiri dan kuat, paling enggak mengatasi masalahnya sendiri.

4. Jangan terpaku sama tokoh utama
Itulah gunanya tokoh pembantu a.ka figuran. Jadi backup saat masalah si tokoh utama sedang dalam situasi cooling down. Tapi jangan melebar juga. Nah, di sinilah plot kamu berguna. Jadi kamu bisa memperkirakan berapa bab kamu akan membahas masalah si tokoh figuran. Sebaiknya jangan terlalu lama dan berbelit-belit, jadinya malah si tokoh figuran yang menonjol, bukan tokoh utama.

5. Masukkan humor
Karakter yang tahu nge-joke biasanya lebih diinget pembaca. Coba deh, karakter novel JOMBLO mana yang lebih kamu inget? Yang paling rajin ngelawak kan. Tapi inget, lawakannya disesuaikan dengan latar belakang si karakter ya.

6. Batasi Keajaiban
Huhuhuhu, suka sebel nggak nonton Bawang Merah dan Bawang Putih. Sebel kan ngeliat setiap kali ada bermasalah, si bawang putih dengan entengnya dibantuin si ibu peri. Nah, kalo kamu setuju sama Ino, berarti jangan praktekkan keajaiban berlebihan ini di novel kamu. Misalnya: untuk kasus cerita tentang tokoh yang terbelit utang. Apa kamu akan membuat adegan si tokoh nemu duit seratus juta di tengah jalan? Ato dia akan memenangkan kuis berhadiah dua milyar? Kalo caranya begitu... selamat, kamu baru aja bikin novel ibu peri.

contoh lainnya, adalah cerita cinta segitiga yang rumit. begitu rumitnya sampe kamu sendiri, sebagai penulis, bingung gimana bikin endingnya. Nah, apa yang kemudian kamu lakukan? Kau bunuh salah satu karakternya. Si karakter malang itu kamu bikin mati kecelakaan/kena penyakit mematikan/ke luar negeri, dsb. Ending sih, tapi garing banget.

7. Hadapkan karakter dengan masalah yang sulit diatasi
Ini perbandingannya, mana yang lebih menarik: novel tentang cewek yang sedang menyiapkan prom dan segala tetek bengek-nya, ato novel tentang cewek yang berencana mencium guru yang ditaksirnya di malam prom. Ino lebih suka yang kedua, jujur aja. Lebih menggigit.

8. Karakter sebaiknya dikasih masalah terus-terusan
Ambillah contohnya, novel tentang cewek yang mo nyium gurunya pas prom itu.

fase 1: si cewek berencana, karena tahun ini terakhir untuknya, berencana nyium guru matematikanya pas prom. Jelas aja rencana gi.la ini dicela temen-temennya.

fase 2: si cewek ditembak temen sekelasnya. Selain itu dia juga dilema, sempat ragu begitu tahu kalo guru yang diam-diam dicintainya itu udah punya pacar.

fase tiga: akhirnya kesampaian juga si cewek nyium si guru. Biarpun di pipi, tapi setidaknya itu bakal jadi kenangan si cewek seumur hidup.

fase 1 --> fase 2 --> fase 3

Nah di antara fase satu dan fase dua kamu bisa selipkan beberapa konflik kecil-kecil, misalnya:
* debat mulut si cewek dan temennya di telepon menyangkut rencana si cewek nyium pak guru,
* pedekate cowok sekelasnya meskipun berkali-kali si cewek menghindar,
* kagetnya si cewek saat tahu tentang tunangan pak guru,
berusaha meyakinkan diri kalo itu gosip tapi akhirnya tahu dari mulut pak guru sendiri kalo dia MEMANG punya tunangan,
* si cewek nangis.

lakukan hal yang sama di sela fase 2 dan fase 3. Dan, tada, kamu jadi punya plot kuat! Bahkan, meskipun belakangan kamu ngerasa poisn-poin tertentu ada yang terlalu berlebihan ato gimana, kamu bisa cepet mengganti karena sebelumnya udah tahu konflik-konflik ini mo diarahkan ke mana.

Ingat, dear: SEBELUM MENULIS, TETAP RENCANAKAN CERITA SEPERTI APA YANG PENGEN KAMU TULIS DALAM BENTUK PLOT. Karena... selain lebih cepet, kamu juga nggak kehilangan kontrol cerita kamu. Apalagi buat yang ngerjain novelnya berdasar mood. Sebulan, ceritanya masih inget. Dua bulan? Tiga bulan? Halah... bisa-bisa tuh novel terbengkalai gitu aja di komputer karena nggak tahu lagi mo nyelesaiinnya gimana. Sayang kan?

Tuesday, January 30, 2007

Bab Pembuka yang Oke ~ part 2

Uhum, satu lagi info bermanfaat...

Taken from "Pulau Penulis Indosiar"

lil_yaaa said...
g penah nemuin novel ato cerita yg diawali dengan keadaan alam. mnrt kalian gmn? misal nih : pagi ini matahari bersinar cerah dsb dsb.

Ino said...
Saran Ino sih--dan biar nggak dicela penulis bukyu ituw, he he he he--hindari kalimat awal 'matahari bersinar'. Kamu kan bisa mendeskripsikan suasana dengan cara lain.

Langit terlihat sangat gelap ketika pemakaman Wulan, tunanganku usai. Beberapa kerabat mulai membuka payungnya masing-masing.

Aku menebarkan pandangan pada wajah mereka satu persatu. Orang bilang, upacara kematian adalah sebuah ajang pertemuan, di mana semua orang berkumpul dan mengenang seseorang yang pegi meninggalkan kita. (Cinta Pertama)

bisa kan diubah jadi begini:

Hitam adalah warna kematian.

Di hari pemakaman Wulan, tunanganku, menda.dak dunia menjadi redup dan sewarna. Payung hitam. Pakaian hitam. Peti mati bercat hitam. Aku lalu berpikir, jangan-jangan semua mengenakan warna hitam supaya terlihat ikut bersimpati--padahal tidak. Di balik penampilan serba hitam para pelayat, tidak ada yang bisa menyaingi kesedihan orangtua Wulan. Beberapa malah berbisik-bisik, jelas sekali tidak sedang membahas kematian Wulan.

Ternyata benar. Aku pernah mendengar orang bilang, upacara kematian adalah ajang pertemuan--malah, ironisnya, pertemuan seluruh anggota keluarga.

Aku menengadah saat mendengar gemuruh serak di langit. Paling tidak, langit tidak munafik, dia benar-benar memperlihatkan kesedihannya hari ini. Sebentar lagi bakal hujan, mencurahkan jutaan tetes air ke bumi. Seperti air mata orangtua yang menangisi kepergian Wulan.

Wulan... tunanganku. Meskipun sebagian dari diriku berusaha mengikhlaskan kepergiannya, aku tak bisa menyangkal, ada bagian dari diriku yang tidak menerima takdir kejam yang diturunkan Tuhan atas kami.... dst

Tips Bab Pembuka yang Oke !

Taken from "Pulau Penulis Indosiar" posted by : Christian Simamora alias ino2cent

INO!


1) USAHAKAN jangan menjadikan adegan bangun pagi sebagai novel pembuka. Selain karena membosankan, biasanya pembuka 'bangun pagi' dilanjutkan dengan adegan 'terlambat', terus 'dimarahi guru killer' dsb. Terlalu biasa.

2) beberapa penulis malah memakai trik membuat konflik di bab pembuka. Konflik yang dipilih nggak terlalu gede tapi bisa membawa pembaca ke konflik utama.

Trik ini bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah membuat kalimat seruan di baris pertama.

Mis: HEH!! Pindah rumah?!" pekik Tom keras, dengan sukses membuat seisi kantin sekolah menoleh pada rambut keritingnya. Sambil nahan malu, Tom balik duduk, masih saja memandangi cewek yang duduk di depannya. (Cowokku Pangeran Kodok--Della Nova)

3) Jangan membuat deskripsi semua karakter di bab awal. Oke, maunya memang biar pembaca gampang mengenali siapa aja tokoh-tokoh yang terlibat dalam cerita, tapi perlu diketahui cara seperti itu malah mematikan minat pembaca membuka halaman berikutnya karena terlanjur 'capek' mencerna keterangan bab awal.

4) Kamu juga bisa meniru trik penulis berita di koran yang memaparkan rangkuman beritanya di kalimat-kalimat awal.

Hari ini aku resmi putus dengan Daniel. Aku nggak menyangka bisa menerimanya lebih kuat daripada yang kuduga sebelumnya. Kupikir aku akan menangis. Menghabiskan sekotak tisu seperti Tita di Eiffel... I'm In Love. Kupikir aku akan mengurung diri di kamar dan jauh dari peradaban selama berhari-hari.

Kupikir aku akan hancur.

Yah, aku akui aku memang agak shock saat Daniel melambaikan bendera 'putus' padaku saat makan siang tadi. Aku bahkan nggak dapat firasat--aku jadi meragukan intuisi wanitaku karena ini--sama sekali. Suasananya benar-benar nggak mengarah adegan putus; kami hanya akan makan siang berdua di kantin kampus, bercerita tentang hari kami masing-masing, tertawa karena lelucon ringan dan berjanji menelepon sepulangnya dari kampus. Seperti biasanya aja. ... dst.

5) Mulai dengan hal-hal yang kontroversial.

Before I steal, I pray. Saint of Kleptomaniacs, forgive me. That's all. I don't think it's necessary to waste the Saint's time with lame excuses about how society or New York or your parents are making you do it. They know you're weak, original sin and all that. For me stealing is like love: I know it when I see it. (She'll Take It--Mary Carter)

6) Konflik batin

Apakah Anda menilai diri Anda stres?
Tidak, aku tidak stres.

Aku... sibuk. Banyak kok orang yang sibuk. Memang begitulah hidup. Aku punya pekerjaan yang bergengsi, karierku sangat penting untukku, dan aku menikmatinya.

Oke, Memang kadang kala aku agak tegang. Agak tertekan. Tapi please deh, aku ini pengacara di City. Mau bagaimana lagi? (The Undomestic Goddess--Sophie Kinsella)

Gagas Bikin Genre Baru !!!

Berita untuk para penulis...

Taken from "Pulau Penulis Indosiar" posted by : Christian Simamora alias ino2cent

Hi hi hi hi... Ino cuma mo bilang aja nih. Mulai tahun ini GagasMedia ngeluarin genre baru yang namanya Candy Romance. Seperti namanya, Candy Romance itu PURE romance. Kalo kamu salah satu di antara penulis yang sukaaa banget nulis cerita romantis dan merasa layak jadi THE NEXT MIRA W ato THE NEXT MARGA T, berarti kamu cocok dong buat ngisi genre ini. Syaratnya udah:

Naskah diketik (jangan tulis tangan ya, Say).
Panjang naskah 60-70 halaman, spasi 1 Times News Roman 12.
Sertain biodata dan sinopsis naskah kamu.
Kirimkan ke Redaksi GagasMedia Jalan Haji Montong No. 57 Ciganjur-Jagakarsa Jakarta Selatan 12630
Ingat: di amplop tulis CANDY ROMANCE

Akhirnya... ada genre khusus buat kita penyuka romance. HORE!

Friday, January 19, 2007

Hecate

CHAPTER 02
=part 02=

Sluuurrrppp!!!
Polly menyeruput secangkir kopi di depannya. Dingin-dingin begini emang paling enak minum kopi. Ting! Bunyi cangkir yang berdentingan dengan piring membuat Sam tersadar dari lamunannya.
“Kamu nggak apa-apa, Sam? Se-shock itukah?” tanya Polly dengan nada khawatir.
Mulanya Sam tidak menjawab. Namun, beberapa detik kemudian, ia bereaksi juga. “Shock sih, sedikit... Tapi... Really, it was cool! Gue pikir hal-hal yang kayak begitu cuma ada di game-game! Ternyata beneran ada!” oceh Sam penuh antusias. Matanya berbinar-binar bagaikan melihat sebuah berlian.
Maklum, Sam adalah penggemar RPG berat. Selama ini, hal-hal berbau fantasi cuma ada dalam impiannya. Sungguh tak disangka, kini dia bisa melihat semua khayalannya itu dengan mata kepalanya sendiri. Bagaimana tidak senang?!
Mendengar ocehan Sam yang begitu bersemangat, Polly tersenyum puas. Setidaknya, tidak sia-sia dia mengajak Sam berkeliling seharian di kota Morton ini. Walaupun bikin kaki pegal-pegal, yang penting membuahkan hasil. Polly senang karena bisa melihat sisi lain dari diri Sam yang kelihatannya super jutek itu. Dia nggak mengira ternyata Sam suka hal-hal berbau fantasi. Rasanya, nggak cocok ama image-nya, hehehe.
Gluk! Sam meneguk habis secangkir teh yang baru saja disajikan oleh salah seorang pelayan di restoran itu. Kata Polly, ini warung terenak di kota Morton lho. Meski penampilan bangunannya tidak meyakinkan, banyak sarang laba di sana-sini, kursi dan meja yang sudah reyot, tapi makanannya paling memenuhi selera Polly. Entah itu benar atau tidak.
‘Setidaknya teh ini cukup enak, meski rasanya sedikit aneh,’ komentar Sam dalam hati. Ia mengamati cangkir kosong di depan dirinya. Pikirannya melayang-layang lagi, memikirkan apakah masih ada kemungkinan bagi dirinya untuk kembali ke dunianya semula. ‘Gue kangen ama teh yang di dunia...’ gumamnya kemudian.
Melihat Sam yang kembali lesu, Polly mengerutkan dahinya. “Sam, pesen makanan yuk!” katanya mencoba mengalihkan perhatian.
Sam mengangkat kepalanya yang tertunduk. Ia sadar kalau Polly mencemaskan dirinya. Dengan tersenyum kecut, ia menepuk-nepuk kepala Polly. “Boleh. Pilih aja yang menurut lo paling enak.”
Wajah Polly kembali berseri. “Oke. Polly pilihin makanan yang paling lezat! Tapi kamu harus habisin ya!”
Sam mengangguk pelan disertai dengan seulas senyum tipis di bibirnya. Ia mengamati sosok gadis periang di depannya. Cewek yang aneh memang. Rambutnya pink dan matanya bulat. Entah kenapa dengan berada di dekatnya Sam bisa merasa tenang. Padahal dalam situasi terjebak di dunia lain begini, harusnya dia panik berat! Tapi...
“Sam, ini menunya!” seru Polly sambil menyodorkan sebuah buku usang dengan kertas yang sudah menguning ke depan Sam.
“Apa ini? Buku menu atau sampah?” tanyanya polos. Ia mencoba membuka buku itu dengan meminimalkan sentuhan sedapat mungkin. Begitu buku menu itu terbuka, debu setebal satu senti langsung bertebaran kemana-mana, membuat Sam terbatuk-batuk hebat.
Melihat itu, Polly pun panik. Ia mencoba menghalau debu-debu yang berterbangan tadi dengan sebelah tangannya. Lalu dengan segera, ia menyodorkan sebuah sapu tangan pada Sam. “Ini Sam.”
Dengan sebelah tangan menutupi mulutnya, Sam menerima sapu tangan dari Polly. Sapu tangan berwarna merah muda yang dilipat rapi. Sam termenung sesaat kemudian mengembalikannya lagi. “Nggak usah deh. Nanti kotor.”
Mata Polly yang semula sudah bulat menjadi semakin membulat mendengar reaksi Sam barusan. “Pakai!” paksanya.
Sam terbelalak. Ternyata cewek itu bisa galak juga. Sambil tersenyum-senyum geli mengingat tampang melotot Polly tadi, Sam menyeka debu-debu yang menempel di tubuhnya dengan sapu tangan. Untunglah, tidak lama kemudian, tubuh Sam sudah lumayan bersih kembali.
“Maaf. Buku-buku di sini memang sudah berdebu. Jarang ada yang mau lihat sih. Biasanya langsung pesan aja!” ujar Polly bersalah. Mestinya dia memperingatkan Sam terlebih dahulu sebelum sempat membuka buku tua itu.
Sam tersenyum kecut. “Ya sudahlah. Anggap aja gue lagi sial. Nah, sekarang pesan apa ya?” gumam Sam sambil berusaha menyeka debu-debu sisa dari atas buku yang menghalanginya untuk membaca tulisan di buku tersebut. Tangannya menyusuri tiap-tiap menu aneh di sana. Mulai dari ‘lalap daun muda’, ‘tarantula legs’, ‘buaya darat bakar’, ‘kodak goreng mentega’, sampai ‘es sarang lebah’. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah menu ‘bull’s eye scrambled egg’.
“Nah, gue pesen ini aja!”
Polly mengintip untuk melihat menu apa yang ditunjuk Sam. “Bull’s eye scrambled egg? Kamu mau itu?” tanyanya. Sam mengangguk tegas sebagai jawaban. “Ya... yakin???” tanya Polly sekali lagi untuk memastikan.
Pertanyaan kedua dari Polly membuat Sam jadi curiga. Memangnya ada yang salah dengan menu itu. Telur mata sapi kan? Jangan-jangan penduduk di sini nggak pernah makan telur mata sapi ya? Kasihan sekali...
“Iya, aku mau pesan itu!” jawab Sam dengan nada penuh keyakinan.
Polly menunduk, menatap buku menu berdebu di depannya. “Ta, tapi...”
Kecurigaan Sam semakin menjadi-jadi. Dia bingung, masa makan telur mata sapi aja semenakutkan itu? ‘Dasar, tempat ini memang aneh. Mungkin mereka biasanya makan batu ya,’ dengusnya dalam hati.
Polly melanjutkan pembicaraan, mencoba menjelaskan alasan kenapa dia tidak ingin Sam memesan menu tersebut. “Dulu sekali, Polly pernah mencoba masakan itu. E, enak sih... Ta, tapi...”
Rasa penasaran Sam kini sudah tidak tertahankan. Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya dan menuntut penjelasan pada Polly. Padahal ini masalah sepele yang nggak penting untuk didiskusikan ya?
“Memangnya apa salahnya dengan menu itu sih?!”
Polly mengecilkan volume suaranya dan menyuruh Sam mendekatkan kuping padanya. Mungkin ia tidak ingin pembicaraan ini didengar orang, tidak tahu kenapa. “Begini lho. Dulu sewaktu Polly makan makanan ini, Polly mengalami efek samping...” bisiknya perlahan.
Sam mengernyitkan dahi. “Efek samping? Makan telur aja kok ada efek sampingnya?” ujar Sam seakan tidak percaya.
“Eh, ini serius Sam! Sehabis makan memang tidak apa-apa. Tapi begitu Polly pulang, keesokan harinya badan Polly bentol-bentol semua. Dan yang paling mengerikan, seharian itu Polly jadi punya tanduk!”
“TANDUK?!” teriak Sam kaget.
Seisi restoran langsung hening mendengar jeritan Sam. Segenap tatapan mata tertuju pada kedua orang ini. Sam refleks menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya. Sedangkan Polly cuma bisa tertunduk malu. Untunglah tidak lama kemudian orang-orang itu kembali pada kesibukannya masing-masing.
“Dasar Sam! Kenapa harus teriak-teriak begitu sih. Bikin malu aja. Kalau sampai terdengar sama pemilik restoran ini kan bisa kacau! Jangan-jangan nanti kita malah diusir!” omel Polly sambil menatap tajam mata Sam.
Ditatap seperti itu, jelas Sam menjadi tidak senang. “Kok gue yang disalahin? Siapapun kalau dikasih tau begitu pasti kaget. Untung aja gue nggak jadi pesen menu aneh itu. Nggak kebayang gimana rasanya tumbuh tanduk selama sehari penuh!” gumam Sam bergidik ngeri.
“Nah kalau begitu harusnya kamu berterima kasih sama Polly!” protes cewek itu nggak senang.
Sam menatap wajah Polly dengan tatapan meremehkan. Kayak anak kecil aja, merengek minta ucapan terima kasih, ejek Sam dalam hati. “Ya, ya... Makasih deh. Puas lo? Nah, sekarang mending lo pesenin gue makanan yang wajar. Yang bisa dimakan oleh manusia macem gue ini. Laper banget nih!”
Dengan polosnya Polly mengangguk riang. “Oke, Polly pesenin! Kamu siap-siap makan aja ya! Dijamin lebih enak daripada makanan-makanan di bumi!” seru Polly bangga.
Sam menatap keluar jendela reyot restoran itu. Sepertinya malam sudah tiba. Buktinya, bulan sudah mulai menampakkan wajahnya. Bulan yang sama dengan bulan yang biasa dilihatnya setiap malam. Rasanya sekarang ini dirinya masih tidak percaya bahwa ia sedang terjebak di dunia lain. Ini semua lebih cocok disebut sebagai mimpi belaka daripada sebuah kenyataan yang mengejutkan.
Di bawah naungan langit malam itu, Sam termenung menatap langit kelam sambil menunggu Polly selesai memilih makanan untuk dipesan. Kapankah ini semua akan berakhir? Pertanyaan itu terus berulang-ulang dalam pikiran Sam. Namun, tak seorang pun yang tahu jawabannya. Karena Sam sendirilah yang harus menemukan jalan keluar dari semua ini.
--------------------------------
Oh ya. Sekadar pemberitahuan. Mungkin HECATE ini bakalan gak dipost secara full story. Soalnya aku berpikir untuk ngirim naskah ini ke penerbit *kalau jadi, amin2*
Makanya, tolong dikomen ya kalau sempet ^^! tengkyuw~

Tuesday, January 16, 2007

Hecate

CHAPTER 02
= part 01 =

“Ayo Sam, kita keluar!” seru Polly riang. Dengan sedikit memaksa, cewek itu menarik-narik ujung baju Sam.
Sam menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Cowok itu pasrah mengikuti semua kemauan Polly walau sebenarnya dia masih setengah mengantuk. Apa boleh buat, sejak tadi Polly sudah ribut mengajak dia keluar rumah. Saat Sam mandi pun, cewek itu terus berbicara di depan pintu, menyuruhnya supaya cepat-cepat. Entah apa yang menarik di luar sana untuk dilihat. Pemandangannya kan sama dengan yang di bumi?!
“Pokoknya, hari ini Polly akan jadi tour-guide! Polly bakal ajak kamu keliling-keliling. Dijamin asyik deh!” ujar cewek berambut pink itu.
Sam hanya menghela napas, seperti biasa. “Iya deh, sesuka lo aja. Emang apa yang menarik sih! Kata lo, dunia ini sama persis kayak di bumi?” kata Sam setelah selesai mengikat tali sepatunya.
Polly tersenyum-senyum sendiri. “Sama sih, tapi beda! Makanya, kamu harus liat sendiri. Yuk, kita jalan!” Polly menggandeng tangan Sam dan menariknya keluar. Sam pun terpaksa mengikuti.
Begitu Polly membuka pintu – dalam hitungan kurang dari 1 detik – Sam langsung terpana. Matanya melotot dan terlihat bulat sempurna. Mulutnya menganga lebar seakan-akan mau menelan sesuatu bulat-bulat.
“Sam? Kenapa kamu?” tanya Polly heran.
Yang ditanya tidak menjawab. Ia masih saja berada di bawah alam ‘tidak sadar’-nya. Dan di alam itu, kedua sosok Sam sedang bertengkar – mempermasalahkan soal apakah yang dilihatnya ini nyata atau sekedar mimpi belaka.
Di depan pemuda itu kini, terlihat sebuah pemandangan yang tidak asing di matanya. Pemandangan yang hampir setiap hari dilihatnya berulang kali. Namun, benar kata Polly. Sekalipun pemandangan itu sama, dunia ini sama sekali berbeda! Yang benar saja, masa ada naga melayang-layang di atas awan, manusia berwajah kucing bawa-bawa kantong belanjaan, dan bahkan ada unicorn segala!
Melihat reaksi Sam yang seperti itu, Polly refleks tertawa. Tak lama kemudian, setelah tawanya mereda, ia menjelaskan segalanya. “Kaget ya? Naga yang kamu lihat di atas sana adalah pesawat terbang versi Asgard. Gunanya untuk transportasi udara. Lalu... Unicorn itu, di dunia kamu adalah kuda. Di sini, unicorn merupakan transportasi darat yang paling umum. Nah, kalau manusia-manusia itu... Ya, sama kan kayak dunia kamu. Di Asgard juga ada banyak suku. Contohnya manusia kucing yang disebut hoffix, kurcaci alias dwarf, raksasa yang kita namai hugo, dan yang paling banyak, orang normal kayak Polly ini, hehehe!”
Sam masih tidak bereaksi meskipun ia sudah bisa sedikit mendengar penjelasan dari Polly tadi.
Polly cemberut. “Hei, Sam. Kamu dengerin nggak sih? Kenapa diem aja?!”
Sam mengerjapkan matanya. Ia menarik napasnya dalam-dalam, seraya mengatakan pada dirinya sendiri agar tetap bersikap cool. “Oke, gue udah merasa lebih tenang sekarang. Gue cuma... sedikit shock.”
Polly melirik Sam dengan tatapan jahil. “Sedikit? Tapi menurut Polly, kamu shock banget tuh!” katanya sambil terkekeh geli.
Wajah Sam langsung memerah. “E, enak aja! Nggak tau! Gue cuma agak kaget dengan perubahan lingkungan!” balasnya ketus.
Senyum Polly mengembang. “Ya udah. Kalau kamu udah tenang. Kita jalan-jalan lagi yuk! Masih banyak kejutan lho di depan sana!”
Sam terbelalak. “Masih ada lagi yang lain???”

Sunday, January 7, 2007

Hecate

CHAPTER 01
=part 04=

“Sam...? Saaam...?” Sayup-sayup Sam mendengar seseorang memanggilnya. Suaranya terdengar mirip Polly, cewek misterius aneh yang dikenalnya semalam.

Lho? Tunggu dulu... Polly? Bukankah seharusnya dia udah kembali ke ‘habitatnya’? Kenapa dia masih di sini?

Perlahan namun pasti, Sam membuka mata. Di depannya, tampak sosok Polly yang sedang cemas. Sinar matahari yang tidak terlalu terik menembus gorden jendela kamar Sam, menandakan bahwa hari sudah menjelang siang. Dan benar saja, jam kecil di samping tempat tidur Sam sudah menunjukkan pukul 10 pagi lewat 23 menit – kira-kira.

Cowok itu terheran-terheran. Setau dia, Polly sudah kembali ke Asgard sekarang. Kenapa sekarang cewek itu masih ada di sini, ya? Jangan-jangan... Ya, nggak salah lagi! Polly pasti gagal melakukan upacara ritual aneh semalam – begitu perkiraan Sam.
Pemuda itu terdiam untuk beberapa saat, memulihkan kesadarannya setelah tidur nyenyak yang panjang di kamarnya. Tapi mendadak ia tersentak. Oh ya, setelah ritual semalam itu, apa yang terjadi ya?

Sam mengalihkan pandangannya kemudian kepada Polly – yang masih saja terduduk diam dengan tatapan cemas terhadap Sam.

“Kenapa lo masih ada di sini? Bukannya lo udah balik ke Asgard?” tanya Sam nggak kalah cemas dengan tatapan Polly. “Oh ya, sebelumnya... Apa yang terjadi semalam setelah ritual aneh itu? Kok gue nggak inget apa-apa ya?”

Polly tersenyum lega. Rasa cemas terhapus dari wajahnya yang agak oval dan juga agak bulat. “Syukurlah kamu nggak apa-apa...” gumamnya perlahan.

Sebelah alis Sam terangkat. Dia nggak mengerti apa yang sedang Polly bicarakan maupun apa yang menyebabkan Polly secemas itu. “Apa maksudnya? Coba jelasin ke gue.”
Cewek berambut coklat itu menatap lurus kepada mata Sam. Tak lama kemudian ia mengangguk. “Kamu pingsan setelah ritual semalam.”

Tanpa menunggu perkataan selanjutnya dari Polly, Sam langsung menyela. “Pingsan? Gue pingsan? Kok bisa? Jangan-jangan gue kerasukan gara-gara upacara aneh lo itu ya?” tanya Sam bertubi-tubi. Matanya menatap tajam kepada Polly, menuntut jawaban yang sebenarnya.

Polly buru-buru menggeleng. “Bukan, bukan! Upacara Polly kemarin itu bukan untuk manggil setan atau sejenisnya kok. Kan Polly udah jelasin, semua itu supaya Polly bisa kembali ke Asgard. Mungkin kemarin kamu pingsan gara-gara terlalu capek. Kalau yang nggak terbiasa, memang bisa berefek samping begitu. Spirit power kamu kan rendah.”

“Apaan tuh spirit power?” tanya Sam.

Cewek itu memutar-mutar arah pandangannya. Ia berusaha berpikir kata-kata apa yang cocok untuk menjelaskan apa yang disebut sebagai spirit power itu. “Nggg... Apa ya? Polly sendiri nggak begitu pandai menjelaskan. Mungkin mirip ama... kekuatan magis? ...Atau apa ya?”

Sam mengerutkan keningnya. Dia sama sekali nggak mengerti apa yang Polly gumamkan. Cewek itu lebih terdengar seperti sedang berbicara sendiri ketimbang sedang menjelaskan pada Sam. “Sudahlah, nggak usah dipikirin lagi,” ujar Sam diiringi dengan helaan napas.

Polly pun tersadar dari ‘dunia’-nya. “Ah, maaf. Polly jadi asyik sendiri.”

“Nggak apa-apa,” balas Sam. ‘Sudah kuduga, cewek ini memang aneh’ pikirnya kemudian.

Tiba-tiba Sam kembali teringat dengan apa yang ingin dikatakannya tadi. “Eh ya. gue mau minta maaf. Gara-gara gue pingsan, upacara ritual semalam jadi gagal ya? Mungkin bisa kita coba lain kali?” katanya sambil menunduk. Jujur saja, dia agak merasa nggak enak terhadap Polly. Sebagai partner, dia sudah gagal.

Polly terdiam, membuat Sam tampak semakin kikuk. Cewek itu tidak menatap Sam sama sekali – mungkin dia marah? Arah pandangannya seperti berputar kesana kemari, menunjukkan kalau dia sedang berpikir. “...Kita sebenernya udah di Asgard kok,” katanya perlahan.

Sesaat – lagi-lagi – Sam tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Polly. Ini kan jelas-jelas adalah kamarnya, bukan di tempat lain.

Seakan mengerti ekspresi Sam, Polly menjelaskan situasi secara singkat. “Sebenarnya, Asgard itu dunia paralelnya bumi. Jadi, pemandangannya yang kamu lihat sekarang ini bukan lagi duniamu, melainkan Asgard.”

Sam tidak berkata sepatah kata pun. Setelah ia mencerna ucapan Polly tadi, akhirnya ia baru membuka mulut. Diucapkannya kalimat itu dengan nada senormal mungkin. “Polly... please. Gue bukan anak TK yang bisa dibohongin ama lo. Apa buktinya kalau lo yakin ini Asgard, bukan bumi?” tantang Sam.

Polly memilin-milin rambutnya. “Unnggg... Mungkin, dengan begini kamu bisa percaya?”
Cewek itu membaca mantra singkat dari buku saku kecil di roknya. Tidak lama setelah ia selesai berkata-kata, muncullah sebuah lidah api di tengah-tengah mereka. Jelas ini membuat Sam melotot. Bukan sulap bukan sihir nih..., hehehe.

“Ini nggak bisa dilakukan kalau di bumi lho. Soalnya di sana, nggak ada magic aura, beda ama Asgard. Makanya untuk mengadakan upacara ritual kemarin, kita butuh bantuan bulan. Nah, kamu udah percaya?” tanya Polly dengan senyum yang nakal.

Sam terpaksa mengangguk. “Meskipun belum 100%,” sambungnya kemudian. Walau agak kesal karena masih merasa diragukan, Polly tersenyum puas – merasa menang kali ya?
Segera setelah itu, Sam tiba-tiba berdiri dari tempat tidurnya. “Tunggu! Ada hal yang lebih penting dari ini! Kalau ini bener di Asgard, berarti lo harus cepet balikin gue ke bumi asal gue. Sekarang gue mesti sekolah!” teriak Sam panik.

Permintaan Sam ini membuat Polly terdiam.

“Kenapa?!” tanya Sam dengan nada setengah berteriak.

Dengan ragu-ragu dan ketakutan (abisnya dibentak Sam sih), Polly menjawab, “Itu... nggak bisa Polly lakukan...”

“Maksudmu?” tanya Sam beberapa detik setelah itu.

Polly menelan ludah. “Seharusnya, nggak boleh ada hubungan antara duniamu dengan dunia Polly. Kejadian kemarin itu, semua hanya kecelakaan yang nggak terduga. Seharusnya, jalur antara dunia kamu dan dunia Polly itu nggak ada.”

“Jadi, dengan kata lain, gue nggak bisa pulang. Begitu?” tanya Sam dengan nada datar. Pertanyaannya kemudian dijawab dengan anggukan kecil dari Polly.

“Kalau gitu, kenapa lo maksa gue bikin ritual aneh itu! Kalau gue nggak ikut upacara aneh lo, gue mungkin nggak bakal terjebak di dunia ini!” bentak Sam keras-keras. Ia menumpahkan segala amarahnya kepada Polly. Kepalanya sekarang benar-benar pusing. Masa iya dia harus menghabiskan seumur hidupnya di dunia yang sama sekali nggak ia kenal.

Polly mulai menunjukkan mata yang basah karena air mata. “Maaf... Polly nggak tau kalau upacara itu bakal membawa kamu ikut serta ke sini. Soalnya, sebelum ini, belum pernah ada orang yang mencoba melakukan upacara ini...” jawab Polly terisak-isak.

Sam mencapai puncak kemarahannya. “Kalau gitu kenapa lo lakuin? Lo nggak tau kalau itu bisa aja membahayakan nyawa orang?! Lo tuh terlalu nekat! Liat buktinya sekarang! Kalau emang belum pernah ada yang melakukan, lo tau dari mana soal ritual itu?”

Masih sambil menangis, Polly menjawab pertanyaan Sam, “Itu... Polly dengar dari dongeng. Maaf! Polly melakukan ini semua semata-mata demi kembali ke dunia Polly, tapi malah membuat kamu yang nggak bisa kembali...”

Sam menarik napas, hendak memaki-maki lagi. Untunglah sesaat sebelum ia membuka mulut, akal sehatnya kembali berjalan.

‘Gawat, gue udah keterlaluan. Gue ampe bikin cewek nangis...’ batin Sam menyesal dalam hati.

Pemuda itu menghela napas. “Ya sudahlah. Toh, gue yang memutuskan untuk bantuin lo. Itu semua bukan sepenuhnya salah lo kok. Makanya, berhentilah menangis sekarang juga,” hibur Sam. Dielusnya kepala mungil Polly dengan lembut.

Polly agak kaget. Dia nggak menyangka ternyata Sam bisa bertindak baik seperti tadi. Kirain dia bakal ngamuk-ngamuk sampai puas.

Sam menatap keluar jendela, ke arah sinar matahari yang nggak ada bedanya sama yang di dunia asli. “Yaaa, apa boleh buat. Terpaksa gue tinggal di sini untuk sementara. Bukan berarti gue menyerah lho. Gue bakal nyari info tentang gimana caranya gue bisa kembali ke dunia gue. Lo juga bantu ya!” ujar Sam sambil menyentil pelan ujung hidung Polly.

“Aw!” Polly mengusap-usap hidungnya yang kesakitan. “Nggg... Baiklah. Serahkan padaku!”

Sam tersenyum lega. Akhirnya cewek di depannya itu berhenti menangis juga. Sekarang, masalah bagi Sam adalah menemukan cara supaya dia bisa kembali ke bumi. Entah berapa lama ia akan memakan waktu. Sehari? Seminggu? Sebulan? Setahun? Atau bahkan berpuluh-puluh tahun?

“Eh ya, Sam!” panggil Polly dengan riang.

Yang dipanggil pun menengok. “Yah? Ada apa?” sahutnya.

Polly tersenyum penuh arti. “SELAMAT DATANG DI ASGARD!!!”

Sunday, December 31, 2006

Hecate

CHAPTER 01
= part 03 =

Sam kini melongo. Otaknya seakan sedang melayang-layang nun jauh di sana. Ia baru saja diceritakan tentang kejadian sebenarnya oleh gadis di depannya ini. Sebuah cerita yang menurut Sam benar-benar nggak masuk diakal!

Begini lho... Cewek ini bernama Polly – menurut Sam, lebih cocok untuk nama anak anjing daripada untuk nama manusia, hehehe. Dia datang dari Asgard, entah di mana itu. Katanya sih, Polly nyasar ke sini gara-gara dia salah mengucapkan spell di kelas sihir. Nggak tau deh. Sam sendiri kurang yakin dengan apa yang diceritakan Polly barusan. Rasanya yang begitu-begitu kan cuma ada di novel-novel aja.

Nah, singkat cerita, supaya Polly bisa kembali ke Asgard, Polly butuh seorang partner. Katanya, kalau di malam bulan purnama Polly membaca spell yang sama dengan yang waktu itu dia ucapin, Polly bisa kembali ke Asgard. Ya, begitu deh!

“Kamu mau ya, Sam? Please...” pinta Polly dengan memelas. Cewek itu kini sedang berusaha keras merayu Sam agar mau jadi partner-nya.

Sam mendengus kesal. “Kenapa harus gue sih? Nggak bisa yang laen?”

“Nggak bisa!” jawab Polly tegas. “Harus kamu Sam! Soalnya Polly lihat, cuma kamu satu-satunya manusia yang mau nolongin anjing ini. Itu artinya kamu baik hati! Lagipula, Polly udah terlanjur memutuskan untuk memilih kamu sebagai partner, nggak bisa kalau sama yang lain!”

Sam menunduk. Wajahnya benar-benar hopeless. Sejujurnya, dia nggak pengen banget terlibat dalam hal-hal yang menurutnya sangat merepotkan ini. Tapi sepertinya memang cuma dia yang bisa membantu Polly saat ini.

“Ya, ya... Boleh deh,” jawab Sam akhirnya. Dia benar-benar udah kehabisan akal bagaimana caranya menolak permintaan Polly.

Raut muka Polly mendadak berubah ceria. “HOREEE!!!” teriaknya sambil melompat-lompat girang.

“Sssttt!!! Jangan berisik! Bisa gawat kalau ketauan ada lo di sini! Nanti gue dikira macem-macem bawa anak cewek malem-malem begini ke rumah!” sahut Sam panik.

Mendengar peringatan Sam, Polly langsung menutup mulutnya. “Ups... Sorry. Lagian, Polly juga nggak mau kok dikira macem-macem ama kamu. Soalnya... Polly cuma mau digosipin ama Leonnn!!! Kyaaa, sekarang Leon lagi ngapain ya?”

Sam menutup kupingnya. Cewek ini berisik banget sih! Jerit-jerit mulu! batinnya kesal.

“Udah, ayo cepet lo baca spell atau apa lah itu! Sekarang kan kebetulan lagi malam bulan purnama. Gue pengen masalah ini cepet-cepet selesai terus tidur!”

Polly menengok ke arah jendela. “Hmm, yah... Polly rasa malam ini bisa. Bulannya udah cukup bulet. Nah, Polly mulai ya!” Cewek itu memasang kuda-kuda – yang menurut Sam adalah pose teraneh sepanjang masa.

“Gue harus ngapain?” sela Sam.

Polly menjulurkan kedua tangannya pada Sam. “Kamu gandeng kedua tangan Polly.”
Dengan agak ragu-ragu, Sam menuruti perintah Polly. “Begini?”

Cewek berkuncir dua itu mengangguk. “Sekarang kamu tutup mata! Polly mulai yaaa...”

Sekali lagi, Sam menurut. Ia menutup kedua matanya. Sayup-sayup ia mendengar Polly sedang menggumamkan mantra-mantra yang nggak jelas apa artinya.

Sunday, December 24, 2006

Hecate

CHAPTER 01
= part 02 =

Tok tok tok...

“Woi, Dy! Bangun! Udah siang! Jangan jadi kebo aje lo!” panggil Sam berulang kali di depan pintu kost Eddy, sahabatnya. Namun, dipanggil berapa kali pun, nampaknya Eddy nggak kunjung bangun. Apa mungkin dia lagi pegi ya? ujar Sam dalam hati.

“Ah, sial deh! Terus gue ngapain dong?! Masa maen basket sendirian?” gerutunya sambil garuk-garuk kepala – ala saudaranya yang ada di Ragunan.

Pemuda itu terpaksa meninggalkan kost sobatnya dengan langkah gontai. Ia men-dribble bola basket di tangannya menuju lapangan kosong di dekat situ. Tiba-tiba sayup-sayup, Sam mendengar suara. Mirip... lolongan anjing, atau serigala?

Sam langsung celingukan, mencari-cari dari mana suara itu berasal. Benar saja dugaannya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Sam melihat seekor anak anjing yang sedang dikelilingi dua tikus got besar. Anak anjing itu melolong ketakutan. Sekujur tubuhnya gemetar hebat. Sementara dua tikus got yang mengepungnya seakan siap menyantap anak anjing itu bulat-bulat.

Sesaat, Sam merasa takut juga. Baru kali ini dia melihat tikus got sebesar itu. Kalau digigit, gimana jadinya ya? Tapi... kalau ditinggal begitu aja, kasihan anak anjingnya. Akhirnya, dengan mengerahkan segenap keberanian dan membuang rasa jijiknya, Sam melemparkan bola basket di tangannya ke arah dua tikus got itu.

Bugh!
Bola basket yang membentur dinding, membuat kedua tikus tersebut kaget dan langsung lari tunggang langgang.

“Fiuh... Untung tikus-tikus itu nggak nyamperin gue! Bisa-bisa gue yang lari nanti,” ujar Sam cengengesan.

Ia menghampiri anak anjing yang masih saja duduk gemetar itu setelah memungut kembali bola basket yang dilemparnya tadi.

Terlihat sebuah pita merah cantik terlilit rapi di leher anak anjing tersebut. Sepertinya udah ada yang punya... pikir Sam. Dielusnya kepala anak anjing tadi sambil berkata, “Udah nggak apa-apa kok! Sana, cepet pulang. Nanti dicariin majikan lho!”

Sam pun berdiri sambil menenteng bola basketnya di tangan kiri. Ia berjalan santai menuju lapangan sebelum tiba-tiba rencananya mendadak berubah akibat gerimis.

“Cih, brengsek! Udah jauh-jauh jalan kok malah ujan!” umpatnya sambil berlari kecil kembali ke kost-nya.

Tiba-tiba langkah Sam terhenti. Entah kenapa, ia teringat pada anak anjing yang ditolongnya tadi. Dia udah balik belom ya?

Sam memang paling suka sekali sama hewan-hewan peliharaan, apalagi anjing. Di rumahnya dulu, ia memelihara 7 ekor anak anjing yang biasanya dia pungut dari pinggir jalan (kayak bikin peternakan ya?). Tapi itu semua menunjukkan betapa sayangnya Sam terhadap makhluk bernama anjing ini.

Dengan langkah besar-besar, Sam berlari kembali menuju tempat di mana ia bertemu anak anjing tadi. Tepat dugaannya, anak anjing tadi masih juga duduk diam di sana. Sam pun dengan segera menghampirinya.

“Hei bego, kenapa masih di sini!” omel Sam sambil melepas jaketnya dan membungkus anak anjing itu – yang kini gemetar karena kedinginan.

Sam pun dengan terburu-buru langsung membawa anak anjing itu pulang ke kost. Diambilnya handuk dari lemari dan mengelap bulu anak anjing itu sampai kering.

“Lo tunggu dulu ya, gue mau ganti baju. Basah kuyup nih!” kata Sam pada anak anjing itu. Hehehe... mending bisa ngerti.

Anak anjing tersebut – seakan mengerti – langsung menggit ujung celana jeans Sam, seolah-olah ingin mengatakan bahwa Sam tidak boleh pergi ke mana-mana.

“Eh, lepasin dong! Nanti celana gue robek. Cuma bentar kok... Mo ganti baju, dingin tau!” sahut Sam sambil menarik-narik celana jeansnya.

Dengan terpaksa, anak anjing itu melepas gigitannya dan membiarkan Sam pergi ke kamar mandi.

Sambil ganti baju, Sam mulai berpikir. Tuh anak anjing lucu juga. Kayaknya boleh juga tuh dipelihara, asal nggak ketauan ibu kost, hehehe... Eh, tapi kan udah ada yang punya ya... Hmm, sementara gue pinjem boleh-boleh aja kali ya!

Seusai berganti pakaian (cuma ganti celana sih lebih tepatnya), Sam kembali ke kamarnya. Namun, betapa shock-nya dia ketika mendapati sesosok gadis sedang duduk di atas tempat tidurnya dan bermain-main dengan anak anjing yang baru saja dipungut Sam tadi.

“Si... siapa lo???!!!” seru Sam terbata-bata. Matanya melotot saking kagetnya, seolah-olah kedua bola mata itu mau melompat keluar.

Gadis misterius yang baru saja menyadari kehadiran Sam langsung menoleh, “Hai... salam kenal!” sapanya polos.

Saturday, December 23, 2006

Hecate

CHAPTER 1
= part 01 =

Sam... Sam...
Bangunlah segera. Kami semua membutuhkanmu...
Sam...


“BERISIKKKKK!!!” jerit Sam keras-keras.

Brak!
Dengan kasar, tubuh Sam terbanting ke lantai – jatuh bebas dengan sempurna dari atas kasurnya yang empuk.

Great... Pendaratan yang sangat mulus,” gumamnya pelan sambil mengusap-usap pantatnya yang kesakitan.

Pemuda bernama Samuel atau lebih sering dipanggil Sam itu berdiri, menengok ke arah jam kecilnya yang tergeletak di atas meja bersama dengan kaus kaki yang sudah seminggu lebih nggak dicuci olehnya.

Masih jam 8... Ini hari minggu kan, batinnya dalam hati. Sial, kalau saja gue nggak diganggu sama mimpi aneh itu, mungkin sekarang gue masih bersenang-senang di alam mimpi sana.

Cowok itu menghela napas panjang. Tampaknya tidur lagi pun percuma. Matahari sudah cukup tinggi sehingga membuat silau kamar kost-nya. Mustahil baginya untuk bisa tidur nyenyak lagi.

“Aaahhh, mandi aja deh... Abis itu ke kost-nya Eddy ngajakin dia maen basket,” katanya kemudian sambil meregangkan ototnya yang terasa kaku akibat tidur selama dua belas jam lebih.

Namun rupanya Sam tidak tau, bahwa keputusannya untuk pergi hari itu, membawanya ke sebuah dunia yang tidak pernah dibayangkan olehnya sebelum ini...

Friday, December 22, 2006

Hecate [opening]

Snupi bikin cerita baru nih! Judulnya "Hecate". Dalam bahasa latin, itu artinya 'goddess of magic'. Kali ini snupi lagi nyoba2 bikin fanfic, hehehe... Iseng doank sih. Mo dibikin cerpen kayaknya kepanjangan. Tapi buat dibikin jd novel... Liat nanti aja deh ^^

Met baca ya... Enjoy it!
---------------------------------
Asgard adalah sebuah kerajaan yang damai, dengan dukungan dari dua penyihir besar, Dwyn dan Carman. Namun ternyata kedamaian itu tidak bertahan lama, semenjak Carman mulai berpikir untuk menguasai Asgard sendirian. Secara diam-diam, Carman pun menyusun suatu rencana untuk membunuh Dwyn. Akibatnya, Asgard yang semula terkenal dengan kedamaiannya, berubah menjadi kerajaan yang penuh kebencian dan perang antara pendukung Dwyn dan pengikut Carman. Menurut peramal besar Achtan, hanya ada seorang yang mampu meredakan ini semua, seorang Hecate yang datang dari dunia lain...

Friday, December 15, 2006

Languange of Flower

Acacia (Blossom) - Concealed Love, Beauty in Retirement, Chaste Love
Acorn - Nordic Symbol of Life and Immortality
Ambrosia - Your Love is Reciprocated
Amaryllis - Pride, Pastoral Poetry
Anemone - Forsaken
Arbutus - Thee Only Do I Love
Aster - Symbol of Love, Daintiness
Azalea - Take Care of Yourself for Me, Temperance, Fragile Passion, Chinese Symbol of Womanhood
Bachelor Button - Single Blessedness
Begonia - Beware
Bells of Ireland - Good Luck
Bittersweet - Truth
Bluebell - Humility
Bouquet of Withered Flowers - Rejected Love