Tuesday, January 16, 2007

Hecate

CHAPTER 02
= part 01 =

“Ayo Sam, kita keluar!” seru Polly riang. Dengan sedikit memaksa, cewek itu menarik-narik ujung baju Sam.
Sam menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Cowok itu pasrah mengikuti semua kemauan Polly walau sebenarnya dia masih setengah mengantuk. Apa boleh buat, sejak tadi Polly sudah ribut mengajak dia keluar rumah. Saat Sam mandi pun, cewek itu terus berbicara di depan pintu, menyuruhnya supaya cepat-cepat. Entah apa yang menarik di luar sana untuk dilihat. Pemandangannya kan sama dengan yang di bumi?!
“Pokoknya, hari ini Polly akan jadi tour-guide! Polly bakal ajak kamu keliling-keliling. Dijamin asyik deh!” ujar cewek berambut pink itu.
Sam hanya menghela napas, seperti biasa. “Iya deh, sesuka lo aja. Emang apa yang menarik sih! Kata lo, dunia ini sama persis kayak di bumi?” kata Sam setelah selesai mengikat tali sepatunya.
Polly tersenyum-senyum sendiri. “Sama sih, tapi beda! Makanya, kamu harus liat sendiri. Yuk, kita jalan!” Polly menggandeng tangan Sam dan menariknya keluar. Sam pun terpaksa mengikuti.
Begitu Polly membuka pintu – dalam hitungan kurang dari 1 detik – Sam langsung terpana. Matanya melotot dan terlihat bulat sempurna. Mulutnya menganga lebar seakan-akan mau menelan sesuatu bulat-bulat.
“Sam? Kenapa kamu?” tanya Polly heran.
Yang ditanya tidak menjawab. Ia masih saja berada di bawah alam ‘tidak sadar’-nya. Dan di alam itu, kedua sosok Sam sedang bertengkar – mempermasalahkan soal apakah yang dilihatnya ini nyata atau sekedar mimpi belaka.
Di depan pemuda itu kini, terlihat sebuah pemandangan yang tidak asing di matanya. Pemandangan yang hampir setiap hari dilihatnya berulang kali. Namun, benar kata Polly. Sekalipun pemandangan itu sama, dunia ini sama sekali berbeda! Yang benar saja, masa ada naga melayang-layang di atas awan, manusia berwajah kucing bawa-bawa kantong belanjaan, dan bahkan ada unicorn segala!
Melihat reaksi Sam yang seperti itu, Polly refleks tertawa. Tak lama kemudian, setelah tawanya mereda, ia menjelaskan segalanya. “Kaget ya? Naga yang kamu lihat di atas sana adalah pesawat terbang versi Asgard. Gunanya untuk transportasi udara. Lalu... Unicorn itu, di dunia kamu adalah kuda. Di sini, unicorn merupakan transportasi darat yang paling umum. Nah, kalau manusia-manusia itu... Ya, sama kan kayak dunia kamu. Di Asgard juga ada banyak suku. Contohnya manusia kucing yang disebut hoffix, kurcaci alias dwarf, raksasa yang kita namai hugo, dan yang paling banyak, orang normal kayak Polly ini, hehehe!”
Sam masih tidak bereaksi meskipun ia sudah bisa sedikit mendengar penjelasan dari Polly tadi.
Polly cemberut. “Hei, Sam. Kamu dengerin nggak sih? Kenapa diem aja?!”
Sam mengerjapkan matanya. Ia menarik napasnya dalam-dalam, seraya mengatakan pada dirinya sendiri agar tetap bersikap cool. “Oke, gue udah merasa lebih tenang sekarang. Gue cuma... sedikit shock.”
Polly melirik Sam dengan tatapan jahil. “Sedikit? Tapi menurut Polly, kamu shock banget tuh!” katanya sambil terkekeh geli.
Wajah Sam langsung memerah. “E, enak aja! Nggak tau! Gue cuma agak kaget dengan perubahan lingkungan!” balasnya ketus.
Senyum Polly mengembang. “Ya udah. Kalau kamu udah tenang. Kita jalan-jalan lagi yuk! Masih banyak kejutan lho di depan sana!”
Sam terbelalak. “Masih ada lagi yang lain???”

Sunday, January 7, 2007

Hecate

CHAPTER 01
=part 04=

“Sam...? Saaam...?” Sayup-sayup Sam mendengar seseorang memanggilnya. Suaranya terdengar mirip Polly, cewek misterius aneh yang dikenalnya semalam.

Lho? Tunggu dulu... Polly? Bukankah seharusnya dia udah kembali ke ‘habitatnya’? Kenapa dia masih di sini?

Perlahan namun pasti, Sam membuka mata. Di depannya, tampak sosok Polly yang sedang cemas. Sinar matahari yang tidak terlalu terik menembus gorden jendela kamar Sam, menandakan bahwa hari sudah menjelang siang. Dan benar saja, jam kecil di samping tempat tidur Sam sudah menunjukkan pukul 10 pagi lewat 23 menit – kira-kira.

Cowok itu terheran-terheran. Setau dia, Polly sudah kembali ke Asgard sekarang. Kenapa sekarang cewek itu masih ada di sini, ya? Jangan-jangan... Ya, nggak salah lagi! Polly pasti gagal melakukan upacara ritual aneh semalam – begitu perkiraan Sam.
Pemuda itu terdiam untuk beberapa saat, memulihkan kesadarannya setelah tidur nyenyak yang panjang di kamarnya. Tapi mendadak ia tersentak. Oh ya, setelah ritual semalam itu, apa yang terjadi ya?

Sam mengalihkan pandangannya kemudian kepada Polly – yang masih saja terduduk diam dengan tatapan cemas terhadap Sam.

“Kenapa lo masih ada di sini? Bukannya lo udah balik ke Asgard?” tanya Sam nggak kalah cemas dengan tatapan Polly. “Oh ya, sebelumnya... Apa yang terjadi semalam setelah ritual aneh itu? Kok gue nggak inget apa-apa ya?”

Polly tersenyum lega. Rasa cemas terhapus dari wajahnya yang agak oval dan juga agak bulat. “Syukurlah kamu nggak apa-apa...” gumamnya perlahan.

Sebelah alis Sam terangkat. Dia nggak mengerti apa yang sedang Polly bicarakan maupun apa yang menyebabkan Polly secemas itu. “Apa maksudnya? Coba jelasin ke gue.”
Cewek berambut coklat itu menatap lurus kepada mata Sam. Tak lama kemudian ia mengangguk. “Kamu pingsan setelah ritual semalam.”

Tanpa menunggu perkataan selanjutnya dari Polly, Sam langsung menyela. “Pingsan? Gue pingsan? Kok bisa? Jangan-jangan gue kerasukan gara-gara upacara aneh lo itu ya?” tanya Sam bertubi-tubi. Matanya menatap tajam kepada Polly, menuntut jawaban yang sebenarnya.

Polly buru-buru menggeleng. “Bukan, bukan! Upacara Polly kemarin itu bukan untuk manggil setan atau sejenisnya kok. Kan Polly udah jelasin, semua itu supaya Polly bisa kembali ke Asgard. Mungkin kemarin kamu pingsan gara-gara terlalu capek. Kalau yang nggak terbiasa, memang bisa berefek samping begitu. Spirit power kamu kan rendah.”

“Apaan tuh spirit power?” tanya Sam.

Cewek itu memutar-mutar arah pandangannya. Ia berusaha berpikir kata-kata apa yang cocok untuk menjelaskan apa yang disebut sebagai spirit power itu. “Nggg... Apa ya? Polly sendiri nggak begitu pandai menjelaskan. Mungkin mirip ama... kekuatan magis? ...Atau apa ya?”

Sam mengerutkan keningnya. Dia sama sekali nggak mengerti apa yang Polly gumamkan. Cewek itu lebih terdengar seperti sedang berbicara sendiri ketimbang sedang menjelaskan pada Sam. “Sudahlah, nggak usah dipikirin lagi,” ujar Sam diiringi dengan helaan napas.

Polly pun tersadar dari ‘dunia’-nya. “Ah, maaf. Polly jadi asyik sendiri.”

“Nggak apa-apa,” balas Sam. ‘Sudah kuduga, cewek ini memang aneh’ pikirnya kemudian.

Tiba-tiba Sam kembali teringat dengan apa yang ingin dikatakannya tadi. “Eh ya. gue mau minta maaf. Gara-gara gue pingsan, upacara ritual semalam jadi gagal ya? Mungkin bisa kita coba lain kali?” katanya sambil menunduk. Jujur saja, dia agak merasa nggak enak terhadap Polly. Sebagai partner, dia sudah gagal.

Polly terdiam, membuat Sam tampak semakin kikuk. Cewek itu tidak menatap Sam sama sekali – mungkin dia marah? Arah pandangannya seperti berputar kesana kemari, menunjukkan kalau dia sedang berpikir. “...Kita sebenernya udah di Asgard kok,” katanya perlahan.

Sesaat – lagi-lagi – Sam tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Polly. Ini kan jelas-jelas adalah kamarnya, bukan di tempat lain.

Seakan mengerti ekspresi Sam, Polly menjelaskan situasi secara singkat. “Sebenarnya, Asgard itu dunia paralelnya bumi. Jadi, pemandangannya yang kamu lihat sekarang ini bukan lagi duniamu, melainkan Asgard.”

Sam tidak berkata sepatah kata pun. Setelah ia mencerna ucapan Polly tadi, akhirnya ia baru membuka mulut. Diucapkannya kalimat itu dengan nada senormal mungkin. “Polly... please. Gue bukan anak TK yang bisa dibohongin ama lo. Apa buktinya kalau lo yakin ini Asgard, bukan bumi?” tantang Sam.

Polly memilin-milin rambutnya. “Unnggg... Mungkin, dengan begini kamu bisa percaya?”
Cewek itu membaca mantra singkat dari buku saku kecil di roknya. Tidak lama setelah ia selesai berkata-kata, muncullah sebuah lidah api di tengah-tengah mereka. Jelas ini membuat Sam melotot. Bukan sulap bukan sihir nih..., hehehe.

“Ini nggak bisa dilakukan kalau di bumi lho. Soalnya di sana, nggak ada magic aura, beda ama Asgard. Makanya untuk mengadakan upacara ritual kemarin, kita butuh bantuan bulan. Nah, kamu udah percaya?” tanya Polly dengan senyum yang nakal.

Sam terpaksa mengangguk. “Meskipun belum 100%,” sambungnya kemudian. Walau agak kesal karena masih merasa diragukan, Polly tersenyum puas – merasa menang kali ya?
Segera setelah itu, Sam tiba-tiba berdiri dari tempat tidurnya. “Tunggu! Ada hal yang lebih penting dari ini! Kalau ini bener di Asgard, berarti lo harus cepet balikin gue ke bumi asal gue. Sekarang gue mesti sekolah!” teriak Sam panik.

Permintaan Sam ini membuat Polly terdiam.

“Kenapa?!” tanya Sam dengan nada setengah berteriak.

Dengan ragu-ragu dan ketakutan (abisnya dibentak Sam sih), Polly menjawab, “Itu... nggak bisa Polly lakukan...”

“Maksudmu?” tanya Sam beberapa detik setelah itu.

Polly menelan ludah. “Seharusnya, nggak boleh ada hubungan antara duniamu dengan dunia Polly. Kejadian kemarin itu, semua hanya kecelakaan yang nggak terduga. Seharusnya, jalur antara dunia kamu dan dunia Polly itu nggak ada.”

“Jadi, dengan kata lain, gue nggak bisa pulang. Begitu?” tanya Sam dengan nada datar. Pertanyaannya kemudian dijawab dengan anggukan kecil dari Polly.

“Kalau gitu, kenapa lo maksa gue bikin ritual aneh itu! Kalau gue nggak ikut upacara aneh lo, gue mungkin nggak bakal terjebak di dunia ini!” bentak Sam keras-keras. Ia menumpahkan segala amarahnya kepada Polly. Kepalanya sekarang benar-benar pusing. Masa iya dia harus menghabiskan seumur hidupnya di dunia yang sama sekali nggak ia kenal.

Polly mulai menunjukkan mata yang basah karena air mata. “Maaf... Polly nggak tau kalau upacara itu bakal membawa kamu ikut serta ke sini. Soalnya, sebelum ini, belum pernah ada orang yang mencoba melakukan upacara ini...” jawab Polly terisak-isak.

Sam mencapai puncak kemarahannya. “Kalau gitu kenapa lo lakuin? Lo nggak tau kalau itu bisa aja membahayakan nyawa orang?! Lo tuh terlalu nekat! Liat buktinya sekarang! Kalau emang belum pernah ada yang melakukan, lo tau dari mana soal ritual itu?”

Masih sambil menangis, Polly menjawab pertanyaan Sam, “Itu... Polly dengar dari dongeng. Maaf! Polly melakukan ini semua semata-mata demi kembali ke dunia Polly, tapi malah membuat kamu yang nggak bisa kembali...”

Sam menarik napas, hendak memaki-maki lagi. Untunglah sesaat sebelum ia membuka mulut, akal sehatnya kembali berjalan.

‘Gawat, gue udah keterlaluan. Gue ampe bikin cewek nangis...’ batin Sam menyesal dalam hati.

Pemuda itu menghela napas. “Ya sudahlah. Toh, gue yang memutuskan untuk bantuin lo. Itu semua bukan sepenuhnya salah lo kok. Makanya, berhentilah menangis sekarang juga,” hibur Sam. Dielusnya kepala mungil Polly dengan lembut.

Polly agak kaget. Dia nggak menyangka ternyata Sam bisa bertindak baik seperti tadi. Kirain dia bakal ngamuk-ngamuk sampai puas.

Sam menatap keluar jendela, ke arah sinar matahari yang nggak ada bedanya sama yang di dunia asli. “Yaaa, apa boleh buat. Terpaksa gue tinggal di sini untuk sementara. Bukan berarti gue menyerah lho. Gue bakal nyari info tentang gimana caranya gue bisa kembali ke dunia gue. Lo juga bantu ya!” ujar Sam sambil menyentil pelan ujung hidung Polly.

“Aw!” Polly mengusap-usap hidungnya yang kesakitan. “Nggg... Baiklah. Serahkan padaku!”

Sam tersenyum lega. Akhirnya cewek di depannya itu berhenti menangis juga. Sekarang, masalah bagi Sam adalah menemukan cara supaya dia bisa kembali ke bumi. Entah berapa lama ia akan memakan waktu. Sehari? Seminggu? Sebulan? Setahun? Atau bahkan berpuluh-puluh tahun?

“Eh ya, Sam!” panggil Polly dengan riang.

Yang dipanggil pun menengok. “Yah? Ada apa?” sahutnya.

Polly tersenyum penuh arti. “SELAMAT DATANG DI ASGARD!!!”

Sunday, December 31, 2006

Hecate

CHAPTER 01
= part 03 =

Sam kini melongo. Otaknya seakan sedang melayang-layang nun jauh di sana. Ia baru saja diceritakan tentang kejadian sebenarnya oleh gadis di depannya ini. Sebuah cerita yang menurut Sam benar-benar nggak masuk diakal!

Begini lho... Cewek ini bernama Polly – menurut Sam, lebih cocok untuk nama anak anjing daripada untuk nama manusia, hehehe. Dia datang dari Asgard, entah di mana itu. Katanya sih, Polly nyasar ke sini gara-gara dia salah mengucapkan spell di kelas sihir. Nggak tau deh. Sam sendiri kurang yakin dengan apa yang diceritakan Polly barusan. Rasanya yang begitu-begitu kan cuma ada di novel-novel aja.

Nah, singkat cerita, supaya Polly bisa kembali ke Asgard, Polly butuh seorang partner. Katanya, kalau di malam bulan purnama Polly membaca spell yang sama dengan yang waktu itu dia ucapin, Polly bisa kembali ke Asgard. Ya, begitu deh!

“Kamu mau ya, Sam? Please...” pinta Polly dengan memelas. Cewek itu kini sedang berusaha keras merayu Sam agar mau jadi partner-nya.

Sam mendengus kesal. “Kenapa harus gue sih? Nggak bisa yang laen?”

“Nggak bisa!” jawab Polly tegas. “Harus kamu Sam! Soalnya Polly lihat, cuma kamu satu-satunya manusia yang mau nolongin anjing ini. Itu artinya kamu baik hati! Lagipula, Polly udah terlanjur memutuskan untuk memilih kamu sebagai partner, nggak bisa kalau sama yang lain!”

Sam menunduk. Wajahnya benar-benar hopeless. Sejujurnya, dia nggak pengen banget terlibat dalam hal-hal yang menurutnya sangat merepotkan ini. Tapi sepertinya memang cuma dia yang bisa membantu Polly saat ini.

“Ya, ya... Boleh deh,” jawab Sam akhirnya. Dia benar-benar udah kehabisan akal bagaimana caranya menolak permintaan Polly.

Raut muka Polly mendadak berubah ceria. “HOREEE!!!” teriaknya sambil melompat-lompat girang.

“Sssttt!!! Jangan berisik! Bisa gawat kalau ketauan ada lo di sini! Nanti gue dikira macem-macem bawa anak cewek malem-malem begini ke rumah!” sahut Sam panik.

Mendengar peringatan Sam, Polly langsung menutup mulutnya. “Ups... Sorry. Lagian, Polly juga nggak mau kok dikira macem-macem ama kamu. Soalnya... Polly cuma mau digosipin ama Leonnn!!! Kyaaa, sekarang Leon lagi ngapain ya?”

Sam menutup kupingnya. Cewek ini berisik banget sih! Jerit-jerit mulu! batinnya kesal.

“Udah, ayo cepet lo baca spell atau apa lah itu! Sekarang kan kebetulan lagi malam bulan purnama. Gue pengen masalah ini cepet-cepet selesai terus tidur!”

Polly menengok ke arah jendela. “Hmm, yah... Polly rasa malam ini bisa. Bulannya udah cukup bulet. Nah, Polly mulai ya!” Cewek itu memasang kuda-kuda – yang menurut Sam adalah pose teraneh sepanjang masa.

“Gue harus ngapain?” sela Sam.

Polly menjulurkan kedua tangannya pada Sam. “Kamu gandeng kedua tangan Polly.”
Dengan agak ragu-ragu, Sam menuruti perintah Polly. “Begini?”

Cewek berkuncir dua itu mengangguk. “Sekarang kamu tutup mata! Polly mulai yaaa...”

Sekali lagi, Sam menurut. Ia menutup kedua matanya. Sayup-sayup ia mendengar Polly sedang menggumamkan mantra-mantra yang nggak jelas apa artinya.

Sunday, December 24, 2006

Hecate

CHAPTER 01
= part 02 =

Tok tok tok...

“Woi, Dy! Bangun! Udah siang! Jangan jadi kebo aje lo!” panggil Sam berulang kali di depan pintu kost Eddy, sahabatnya. Namun, dipanggil berapa kali pun, nampaknya Eddy nggak kunjung bangun. Apa mungkin dia lagi pegi ya? ujar Sam dalam hati.

“Ah, sial deh! Terus gue ngapain dong?! Masa maen basket sendirian?” gerutunya sambil garuk-garuk kepala – ala saudaranya yang ada di Ragunan.

Pemuda itu terpaksa meninggalkan kost sobatnya dengan langkah gontai. Ia men-dribble bola basket di tangannya menuju lapangan kosong di dekat situ. Tiba-tiba sayup-sayup, Sam mendengar suara. Mirip... lolongan anjing, atau serigala?

Sam langsung celingukan, mencari-cari dari mana suara itu berasal. Benar saja dugaannya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Sam melihat seekor anak anjing yang sedang dikelilingi dua tikus got besar. Anak anjing itu melolong ketakutan. Sekujur tubuhnya gemetar hebat. Sementara dua tikus got yang mengepungnya seakan siap menyantap anak anjing itu bulat-bulat.

Sesaat, Sam merasa takut juga. Baru kali ini dia melihat tikus got sebesar itu. Kalau digigit, gimana jadinya ya? Tapi... kalau ditinggal begitu aja, kasihan anak anjingnya. Akhirnya, dengan mengerahkan segenap keberanian dan membuang rasa jijiknya, Sam melemparkan bola basket di tangannya ke arah dua tikus got itu.

Bugh!
Bola basket yang membentur dinding, membuat kedua tikus tersebut kaget dan langsung lari tunggang langgang.

“Fiuh... Untung tikus-tikus itu nggak nyamperin gue! Bisa-bisa gue yang lari nanti,” ujar Sam cengengesan.

Ia menghampiri anak anjing yang masih saja duduk gemetar itu setelah memungut kembali bola basket yang dilemparnya tadi.

Terlihat sebuah pita merah cantik terlilit rapi di leher anak anjing tersebut. Sepertinya udah ada yang punya... pikir Sam. Dielusnya kepala anak anjing tadi sambil berkata, “Udah nggak apa-apa kok! Sana, cepet pulang. Nanti dicariin majikan lho!”

Sam pun berdiri sambil menenteng bola basketnya di tangan kiri. Ia berjalan santai menuju lapangan sebelum tiba-tiba rencananya mendadak berubah akibat gerimis.

“Cih, brengsek! Udah jauh-jauh jalan kok malah ujan!” umpatnya sambil berlari kecil kembali ke kost-nya.

Tiba-tiba langkah Sam terhenti. Entah kenapa, ia teringat pada anak anjing yang ditolongnya tadi. Dia udah balik belom ya?

Sam memang paling suka sekali sama hewan-hewan peliharaan, apalagi anjing. Di rumahnya dulu, ia memelihara 7 ekor anak anjing yang biasanya dia pungut dari pinggir jalan (kayak bikin peternakan ya?). Tapi itu semua menunjukkan betapa sayangnya Sam terhadap makhluk bernama anjing ini.

Dengan langkah besar-besar, Sam berlari kembali menuju tempat di mana ia bertemu anak anjing tadi. Tepat dugaannya, anak anjing tadi masih juga duduk diam di sana. Sam pun dengan segera menghampirinya.

“Hei bego, kenapa masih di sini!” omel Sam sambil melepas jaketnya dan membungkus anak anjing itu – yang kini gemetar karena kedinginan.

Sam pun dengan terburu-buru langsung membawa anak anjing itu pulang ke kost. Diambilnya handuk dari lemari dan mengelap bulu anak anjing itu sampai kering.

“Lo tunggu dulu ya, gue mau ganti baju. Basah kuyup nih!” kata Sam pada anak anjing itu. Hehehe... mending bisa ngerti.

Anak anjing tersebut – seakan mengerti – langsung menggit ujung celana jeans Sam, seolah-olah ingin mengatakan bahwa Sam tidak boleh pergi ke mana-mana.

“Eh, lepasin dong! Nanti celana gue robek. Cuma bentar kok... Mo ganti baju, dingin tau!” sahut Sam sambil menarik-narik celana jeansnya.

Dengan terpaksa, anak anjing itu melepas gigitannya dan membiarkan Sam pergi ke kamar mandi.

Sambil ganti baju, Sam mulai berpikir. Tuh anak anjing lucu juga. Kayaknya boleh juga tuh dipelihara, asal nggak ketauan ibu kost, hehehe... Eh, tapi kan udah ada yang punya ya... Hmm, sementara gue pinjem boleh-boleh aja kali ya!

Seusai berganti pakaian (cuma ganti celana sih lebih tepatnya), Sam kembali ke kamarnya. Namun, betapa shock-nya dia ketika mendapati sesosok gadis sedang duduk di atas tempat tidurnya dan bermain-main dengan anak anjing yang baru saja dipungut Sam tadi.

“Si... siapa lo???!!!” seru Sam terbata-bata. Matanya melotot saking kagetnya, seolah-olah kedua bola mata itu mau melompat keluar.

Gadis misterius yang baru saja menyadari kehadiran Sam langsung menoleh, “Hai... salam kenal!” sapanya polos.

Saturday, December 23, 2006

Hecate

CHAPTER 1
= part 01 =

Sam... Sam...
Bangunlah segera. Kami semua membutuhkanmu...
Sam...


“BERISIKKKKK!!!” jerit Sam keras-keras.

Brak!
Dengan kasar, tubuh Sam terbanting ke lantai – jatuh bebas dengan sempurna dari atas kasurnya yang empuk.

Great... Pendaratan yang sangat mulus,” gumamnya pelan sambil mengusap-usap pantatnya yang kesakitan.

Pemuda bernama Samuel atau lebih sering dipanggil Sam itu berdiri, menengok ke arah jam kecilnya yang tergeletak di atas meja bersama dengan kaus kaki yang sudah seminggu lebih nggak dicuci olehnya.

Masih jam 8... Ini hari minggu kan, batinnya dalam hati. Sial, kalau saja gue nggak diganggu sama mimpi aneh itu, mungkin sekarang gue masih bersenang-senang di alam mimpi sana.

Cowok itu menghela napas panjang. Tampaknya tidur lagi pun percuma. Matahari sudah cukup tinggi sehingga membuat silau kamar kost-nya. Mustahil baginya untuk bisa tidur nyenyak lagi.

“Aaahhh, mandi aja deh... Abis itu ke kost-nya Eddy ngajakin dia maen basket,” katanya kemudian sambil meregangkan ototnya yang terasa kaku akibat tidur selama dua belas jam lebih.

Namun rupanya Sam tidak tau, bahwa keputusannya untuk pergi hari itu, membawanya ke sebuah dunia yang tidak pernah dibayangkan olehnya sebelum ini...

Friday, December 22, 2006

Hecate [opening]

Snupi bikin cerita baru nih! Judulnya "Hecate". Dalam bahasa latin, itu artinya 'goddess of magic'. Kali ini snupi lagi nyoba2 bikin fanfic, hehehe... Iseng doank sih. Mo dibikin cerpen kayaknya kepanjangan. Tapi buat dibikin jd novel... Liat nanti aja deh ^^

Met baca ya... Enjoy it!
---------------------------------
Asgard adalah sebuah kerajaan yang damai, dengan dukungan dari dua penyihir besar, Dwyn dan Carman. Namun ternyata kedamaian itu tidak bertahan lama, semenjak Carman mulai berpikir untuk menguasai Asgard sendirian. Secara diam-diam, Carman pun menyusun suatu rencana untuk membunuh Dwyn. Akibatnya, Asgard yang semula terkenal dengan kedamaiannya, berubah menjadi kerajaan yang penuh kebencian dan perang antara pendukung Dwyn dan pengikut Carman. Menurut peramal besar Achtan, hanya ada seorang yang mampu meredakan ini semua, seorang Hecate yang datang dari dunia lain...

Friday, December 15, 2006

Languange of Flower

Acacia (Blossom) - Concealed Love, Beauty in Retirement, Chaste Love
Acorn - Nordic Symbol of Life and Immortality
Ambrosia - Your Love is Reciprocated
Amaryllis - Pride, Pastoral Poetry
Anemone - Forsaken
Arbutus - Thee Only Do I Love
Aster - Symbol of Love, Daintiness
Azalea - Take Care of Yourself for Me, Temperance, Fragile Passion, Chinese Symbol of Womanhood
Bachelor Button - Single Blessedness
Begonia - Beware
Bells of Ireland - Good Luck
Bittersweet - Truth
Bluebell - Humility
Bouquet of Withered Flowers - Rejected Love