“BAWEL!” Tiba-tiba sebuah teriakan bergema di pekarangan pondok itu, membuat Sam tersentak kaget dan rasa mualnya jadi sedikit kambuh lagi.
“EMANG APA URUSAN LO AMA GUE!” Suara itu kembali terdengar, sangat jelas di telinga Sam.
Dengan agak ragu-ragu pemuda itu mencoba mengintip dari balik pohon. Karena sudah malam, sosok orang itu tidak begitu terlihat jelas. Yang pasti, dia seorang cewek dan cewek itu tampaknya sedang menelepon seseorang. Mungkin mereka berdua sedang berada dalam pertengkaran besar, sampai-sampai berteriak histeris begitu.
“LO DENGER YA! KITA ITU UDAH NGGAK ADA URUSAN APA-APA. LO NGGAK USAH IKUT CAMPUR LAGI, TAU NGGAK?!” bentak cewek itu dengan kasar.
‘Gile sangar banget tuh cewek,’ gumam Sam kagum, meski ia agak merasa takut juga, hehehe.
Dari belakang, sosok cewek itu agak mirip Polly. Tinggi tubuhnya hampir sama, meski cewek ini agak lebih tinggi – menurut perkiraan Sam. Potongan rambutnya juga mirip, meski warnanya berbeda. Rambut cewek ini berwarna coklat, sedangkan rambut Polly berwarna pink mencolok.
“ALAAAHHH... NGGAK USAH NGOMONG LAGI DEH! GUE UDAH CAPEK!” teriaknya lagi dengan suara lantang. Nggak takut tetangga protes ya?
Sam agak menutup kupingnya, takut budeg. Habis, suara cewek galak itu bener-bener bikin sakit telinga sih. Mungkin dia sedang emosi dengan lawan bicaranya di telepon itu.
‘Ngomong-ngomong, canggih juga disini udah ada HP, meski kelihatannya masih model kuno...’ celetuk Sam sambil cengengesan. Padahal ini bukan waktu yang tepat untuk tertawa.
“BERISIK AH, SUKA-SUKA GUE DONG, DASAR COWOK TUA BANGKA!” maki cewek itu sambil melempar HP-nya sehingga tercemplung ke kolam ikan. “MATI SAJA SANA JADI MAKANAN IKAN!” cacinya sekali lagi.
Dengan langkah besar-besar, cewek itu berjalan ke arah Sam (ke arah pondok lebih tepatnya). Karena kejadian itu terlalu cepat, Sam bahkan tidak sempat menghindar. Maklum, saat ini dia sedang dalam keadaan tidak sehat. Untuk berjalan saja sudah sulit, apalagi lari? Sam cuma bisa berharap semoga cewek kasar itu tidak menyadari kehadirannya.
Friday, March 16, 2007
Tuesday, March 6, 2007
Dari Editor utk Calon Penulis
Taken from Pulau Penulis Indosiar. Posted by Luna_TR.
Jgn protes mulu kalau naskah yg kita kirim lama ditanggapinya! Nih, coba deh baca surat salah satu editor dari sebuah penerbit.. Jgn lupa intropeksi diri ya! ^^ Hehehe... Semoga bisa memberi kmu pencerahan ttg perasaan editor.
----------------
Dari Editor untuk Calon Penulis [Keluhan sang editor mahakuasa]
Ada tumpukan naskah di bawah meja. Naskah para calon penulis yang [tentunya] punya impian bukunya bisa diterbitkan THE publishing house of Indonesia. Sayangnya [sama sekali] tidak banyak yang layak terbit. Apa yang bisa diharapkan dari naskah-naskah malang itu kalau adegan pembuka-bab I-halaman 1-paragraf pertama selalu dimulai dengan
“Kring!” Hah, bunyi apa itu? Astaga, sudah jam tujuh! Duh, aku telat lagi deh!”
atau
Tok tok tok!!! “Shinta! Bangun! Kamu sekolah gak?” “Hah! Mama kenapa gak bangunin Shinta dari tadi? Ini sudah jam tujuh!” Lalu Shinta tergopoh-gopoh ke kamar mandi.
Dan keklisean itu msh ditmb bhs SMS ala gw-lo yg disngkt-sngkt n pnh tnda bc…………… sampai berderet-deret banyaknya!!!!!!!!!!!!!
Kalau saja para calon penulis itu tahu: Begitu editor tertentu [*cough* moi] membaca adegan klise seperti di atas---bahkan tak sampai satu paragraf---sang editor yang mahakuasa langsung menumpuknya di meja, menandainya dengan tulisan “TOLAK”, membubuhkan paraf serta tanggal, dan kadang-kadang memberi keterangan “Cerita basi”.
Bisakah Anda para pembaca membayangkan jalan cerita naskah semacam itu? Biasanya, naskah sejenis itu menceritakan kisah hidup sang penulis sendiri. Biasanya, sang penulis masih duduk di bangku SMP atau SMA. Biasanya, sang penulis berjenis kelamin perempuan. Biasanya, si tokoh gadis yang cantik dan populer naksir pemain basket yang ngetop tapi sikapnya dingin setengah mati. Biasanya, ada adegan di kantin sekolah atau di lapangan basket. Biasanya…
Dan akhirnya pun bisa ditebak: kedua tokoh yang tadinya musuhan akhirnya saling menyatakan cinta dan janji sehidup semati.
Tidak ada yang lebih basi daripada itu.
Marilah, hai, para calon penulis yang budiman. Berpikirlah. Gali bakat dan potensi Anda. Jangan sia-siakan sel-sel kelabu Anda. Dan bagi Anda yang sebenarnya tidak memiliki bakat dan potensi, sadarilah keberadaan Anda, dan tuangkanlah kreativitas Anda di bidang-bidang lain.
Jangan buru-buru menyatakan Anda sedang menulis buku hanya karena belakangan muncul penulis-penulis cantik [dan beken] yang karyanya berhasil menjadi best seller. Jangan buru-buru berpendapat, Ah, apa sulitnya menulis novel, cerpenku kan pernah dimuat di Aneka waktu SMA dulu. Jangan menganggap ketika novel [basi] itu akhirnya selesai, penerbit-penerbit akan berebut dan menawarkan royalti paling tinggi.
Banyak-banyaklah membaca. Banyak-banyaklah belajar dari karya orang lain. Mawas diri---kejar impian Anda bila Anda punya napas cukup panjang, atau lupakan saja bila faktor bakat, kemauan, dan kemampuan itu ternyata sangat terbatas. Bila Anda memang punya tiga faktor tersebut, silakan berkreasi, namun jadilah kreatif. Temukan sesuatu yang baru. Cari angle yang tidak biasa. Be creative.
Please.
Siska
Tanggapan editor lain :
Satujuh!!! Dan yg kusadari setelah menghadapi gunung naskah itu: penampilan sangat penting. Paling males baca naskah yg penuh tipp-ex, apalagi kalo coretan tangan terus ditambahi catatan (dg tulisan tangan juga).
Paling suka dapat naskah yg terjilid rapi, ketikan jelas, disertai riwayat hidup pengarangnya. Jadi kelihatan bahwa yg bikin itu "niat".
Oya, tolong juga tiap naskah disertai sinopsis, biar para editor yg mahakuasa ini agak semangat baca naskahnya (kalo sinopsisnya bagus).
Jgn protes mulu kalau naskah yg kita kirim lama ditanggapinya! Nih, coba deh baca surat salah satu editor dari sebuah penerbit.. Jgn lupa intropeksi diri ya! ^^ Hehehe... Semoga bisa memberi kmu pencerahan ttg perasaan editor.
----------------
Dari Editor untuk Calon Penulis [Keluhan sang editor mahakuasa]
Ada tumpukan naskah di bawah meja. Naskah para calon penulis yang [tentunya] punya impian bukunya bisa diterbitkan THE publishing house of Indonesia. Sayangnya [sama sekali] tidak banyak yang layak terbit. Apa yang bisa diharapkan dari naskah-naskah malang itu kalau adegan pembuka-bab I-halaman 1-paragraf pertama selalu dimulai dengan
“Kring!” Hah, bunyi apa itu? Astaga, sudah jam tujuh! Duh, aku telat lagi deh!”
atau
Tok tok tok!!! “Shinta! Bangun! Kamu sekolah gak?” “Hah! Mama kenapa gak bangunin Shinta dari tadi? Ini sudah jam tujuh!” Lalu Shinta tergopoh-gopoh ke kamar mandi.
Dan keklisean itu msh ditmb bhs SMS ala gw-lo yg disngkt-sngkt n pnh tnda bc…………… sampai berderet-deret banyaknya!!!!!!!!!!!!!
Kalau saja para calon penulis itu tahu: Begitu editor tertentu [*cough* moi] membaca adegan klise seperti di atas---bahkan tak sampai satu paragraf---sang editor yang mahakuasa langsung menumpuknya di meja, menandainya dengan tulisan “TOLAK”, membubuhkan paraf serta tanggal, dan kadang-kadang memberi keterangan “Cerita basi”.
Bisakah Anda para pembaca membayangkan jalan cerita naskah semacam itu? Biasanya, naskah sejenis itu menceritakan kisah hidup sang penulis sendiri. Biasanya, sang penulis masih duduk di bangku SMP atau SMA. Biasanya, sang penulis berjenis kelamin perempuan. Biasanya, si tokoh gadis yang cantik dan populer naksir pemain basket yang ngetop tapi sikapnya dingin setengah mati. Biasanya, ada adegan di kantin sekolah atau di lapangan basket. Biasanya…
Dan akhirnya pun bisa ditebak: kedua tokoh yang tadinya musuhan akhirnya saling menyatakan cinta dan janji sehidup semati.
Tidak ada yang lebih basi daripada itu.
Marilah, hai, para calon penulis yang budiman. Berpikirlah. Gali bakat dan potensi Anda. Jangan sia-siakan sel-sel kelabu Anda. Dan bagi Anda yang sebenarnya tidak memiliki bakat dan potensi, sadarilah keberadaan Anda, dan tuangkanlah kreativitas Anda di bidang-bidang lain.
Jangan buru-buru menyatakan Anda sedang menulis buku hanya karena belakangan muncul penulis-penulis cantik [dan beken] yang karyanya berhasil menjadi best seller. Jangan buru-buru berpendapat, Ah, apa sulitnya menulis novel, cerpenku kan pernah dimuat di Aneka waktu SMA dulu. Jangan menganggap ketika novel [basi] itu akhirnya selesai, penerbit-penerbit akan berebut dan menawarkan royalti paling tinggi.
Banyak-banyaklah membaca. Banyak-banyaklah belajar dari karya orang lain. Mawas diri---kejar impian Anda bila Anda punya napas cukup panjang, atau lupakan saja bila faktor bakat, kemauan, dan kemampuan itu ternyata sangat terbatas. Bila Anda memang punya tiga faktor tersebut, silakan berkreasi, namun jadilah kreatif. Temukan sesuatu yang baru. Cari angle yang tidak biasa. Be creative.
Please.
Siska
Tanggapan editor lain :
Satujuh!!! Dan yg kusadari setelah menghadapi gunung naskah itu: penampilan sangat penting. Paling males baca naskah yg penuh tipp-ex, apalagi kalo coretan tangan terus ditambahi catatan (dg tulisan tangan juga).
Paling suka dapat naskah yg terjilid rapi, ketikan jelas, disertai riwayat hidup pengarangnya. Jadi kelihatan bahwa yg bikin itu "niat".
Oya, tolong juga tiap naskah disertai sinopsis, biar para editor yg mahakuasa ini agak semangat baca naskahnya (kalo sinopsisnya bagus).
Friday, February 16, 2007
Hecate
CHAPTER 03
= part 01 =
“Uggghhh...”
Sam berjalan terhuyung-huyung. Kepalanya sangat pusing. Perutnya seakan-akan dijungkirbalikkan dan dunia di hadapannya serasa berputar-putar seperti gasing. Sesekali ia berhenti berjalan untuk menenangkan gejolak dalam perutnya.
“Sam, kamu nggak apa-apa?” tanya Polly cemas. “Muka kamu pucat banget. Sampai-sampai nggak ada bedanya ama mayat hidup. Polly jadi serem nih!”
Dengan segenap kekuatan yang tersisa, Sam menggelengkan kepalanya – berusaha membuat Polly tenang. Kalau cewek itu panik, semua bisa jadi tambah parah! Tapi kalau dipaksa-paksa berjalan terus, rasanya dia juga mulai tidak kuat nih.
Polly memapah Sam. “Tahan sebentar ya Sam. Sebentar lagi kita sampai ke rumahku kok!” katanya mencoba menyemangati Sam yang persis orang mabuk darat laut dan udara sekaligus. Sam mengangguk tanpa ada perlawanan. Ia bahkan sudah tidak kuat untuk marah-marah. Rasa mualnya jauh lebih besar daripada rasa kesalnya sekarang.
Setelah beberapa menit berjalan, Sam dan Polly tiba di sebuah rumah tua, agak mirip pondok batu – menurut Sam. “Ini panti asuhan tempat Polly tinggal. Kamu tunggu sebentar di sini ya! Polly mau minta izin sama Bu Amaryl supaya kamu boleh tinggal di sini.”
Dengan esktra hati-hati, Polly mencoba menyandarkan tubuh Sam di pohon besar di depan panti. Setelah memastikan Sam tidak akan terjatuh, cewek itu buru-buru berlari masuk ke dalam pondok sambil berteriak-teriak memanggil Bu Amaryl. Entah siapa itu.
Sam menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan rasa sakit kepala dan rasa mual-mual di perutnya. Untunglah angin malam itu cukup bersahabat. Sebentar saja Sam memejamkan mata, ia sudah mulai merasa baikan.
“Dasar sial,” gumamnya pelan setelah ia sudah mampu untuk berbicara lagi. “Dikasih racun apa sih gue tadi. Gila, tuh makanan awalnya doang enak. Abis itu jadi enek! Mau muntah gue rasanya. Makanan orang sini emang aneh, selera rendahan. Restoran begitu kok bisa ramai?”
Sam mencoba melihat sekeliling. Memang benar, sepertinya ini sebuah panti asuhan. Kenapa Polly bisa tinggal di rumah seperti ini ya? Apa orangtuanya pemilik panti ini? Sam terus bertanya-tanya dalam hati. Sesekali ia menengok ke arah pintu, memastikan apakah Polly sudah kembali atau belum. Jangan-jangan, cewek itu kabur? Sial benar kalau begitu.
= part 01 =
“Uggghhh...”
Sam berjalan terhuyung-huyung. Kepalanya sangat pusing. Perutnya seakan-akan dijungkirbalikkan dan dunia di hadapannya serasa berputar-putar seperti gasing. Sesekali ia berhenti berjalan untuk menenangkan gejolak dalam perutnya.
“Sam, kamu nggak apa-apa?” tanya Polly cemas. “Muka kamu pucat banget. Sampai-sampai nggak ada bedanya ama mayat hidup. Polly jadi serem nih!”
Dengan segenap kekuatan yang tersisa, Sam menggelengkan kepalanya – berusaha membuat Polly tenang. Kalau cewek itu panik, semua bisa jadi tambah parah! Tapi kalau dipaksa-paksa berjalan terus, rasanya dia juga mulai tidak kuat nih.
Polly memapah Sam. “Tahan sebentar ya Sam. Sebentar lagi kita sampai ke rumahku kok!” katanya mencoba menyemangati Sam yang persis orang mabuk darat laut dan udara sekaligus. Sam mengangguk tanpa ada perlawanan. Ia bahkan sudah tidak kuat untuk marah-marah. Rasa mualnya jauh lebih besar daripada rasa kesalnya sekarang.
Setelah beberapa menit berjalan, Sam dan Polly tiba di sebuah rumah tua, agak mirip pondok batu – menurut Sam. “Ini panti asuhan tempat Polly tinggal. Kamu tunggu sebentar di sini ya! Polly mau minta izin sama Bu Amaryl supaya kamu boleh tinggal di sini.”
Dengan esktra hati-hati, Polly mencoba menyandarkan tubuh Sam di pohon besar di depan panti. Setelah memastikan Sam tidak akan terjatuh, cewek itu buru-buru berlari masuk ke dalam pondok sambil berteriak-teriak memanggil Bu Amaryl. Entah siapa itu.
Sam menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan rasa sakit kepala dan rasa mual-mual di perutnya. Untunglah angin malam itu cukup bersahabat. Sebentar saja Sam memejamkan mata, ia sudah mulai merasa baikan.
“Dasar sial,” gumamnya pelan setelah ia sudah mampu untuk berbicara lagi. “Dikasih racun apa sih gue tadi. Gila, tuh makanan awalnya doang enak. Abis itu jadi enek! Mau muntah gue rasanya. Makanan orang sini emang aneh, selera rendahan. Restoran begitu kok bisa ramai?”
Sam mencoba melihat sekeliling. Memang benar, sepertinya ini sebuah panti asuhan. Kenapa Polly bisa tinggal di rumah seperti ini ya? Apa orangtuanya pemilik panti ini? Sam terus bertanya-tanya dalam hati. Sesekali ia menengok ke arah pintu, memastikan apakah Polly sudah kembali atau belum. Jangan-jangan, cewek itu kabur? Sial benar kalau begitu.
Saturday, February 10, 2007
[Tips] Karakter Novel yg Baik...
Taken from Pulau Penulis. Posted by Christian Simamora alias ino2cent...
1. Karakter utama kamu harus mengalami perubahan, minimal sekali. Tapi inget, karakter boleh mengalami perubahan, tapi jangan sampai mengubah sifat karakter tersebut.
Maksud lo, Ino? Maksud Ino niiih, dalam rentang waktu yang dibatasi plot, kamu harus membuat karakter novel kamu 'berubah', entah itu sisi psikologis, maupun fisik.
Misalnya, ambil novel Princess Diary. Di bab-bab awal, kerasa banget ya nggak pedenya si Mia Thermopolis ini? Nah, bandingin saat di bab-bab akhir. Ohh, dia jauh lebih kuat. Terlepas dia ngerasa nggak siap sebagai ahli waris tahta Genovia, buktinya dia belajar untuk KUAT dan mencoba menyukai status barunya itu. Ada PERUBAHAN kan?
Ato, novel Cintapuccino. Ami, tokoh utamanya mengalami perubahan drastis saat dia memilih Nimo ketimbang tunangannya. Itu juga PERUBAHAN.
Tapi pertanyaan Ino, di kedua novel itu, apakah sifat Mia dan Ami jadi berubah karena perubahan itu? Mia tetap nggak pede kok dengan keadaan dirinya.
2. Voice and Tone
Nah ini dia yang sering terlupakan. Kadang, saking asyiknya menulis novel, voice and tone (gaya bahasa si tokoh) suka kecampur-campur sama gaya bahasa si penulis. Pernah nggak kalian baca novel yang karakternya ancur abis (males belajar dsb) tiba-tiba ngeluarin kata-kata nasehat yang bijaksana? Ato, si karakter umurnya masih sepuluh tahun, tapi sering make kata-kata sulit? Ya dear, kalo ngerasa pernah ngelakuin itu di novel, coba deh dicek. Jangan-jangan di tengah cerita, karakter novelmu pelan-pelan bermetamorfosis jadi... kayak kamu! Aduh, gawat itu.
3. Tokoh harus menghadapi sendiri masalahnya dalam cerita
Dengan kata lain, jangan menggunakan tokoh lain untuk menyelesaikan masalah si tokoh. Misalnya, si tokoh terbelit hutang. Nah, kamu malah membuat si karakter akhirnya dibantu sama bokapnya. Dijamin, kalo kamu nulis seperti ini, pembaca bakal mencak-mencak. Mikirnya kira-kira begini, Ahhh, pantes aja masalahnya selesai... dibantuin bokapnya sih! Pembaca seneng tokoh yang mandiri dan kuat, paling enggak mengatasi masalahnya sendiri.
4. Jangan terpaku sama tokoh utama
Itulah gunanya tokoh pembantu a.ka figuran. Jadi backup saat masalah si tokoh utama sedang dalam situasi cooling down. Tapi jangan melebar juga. Nah, di sinilah plot kamu berguna. Jadi kamu bisa memperkirakan berapa bab kamu akan membahas masalah si tokoh figuran. Sebaiknya jangan terlalu lama dan berbelit-belit, jadinya malah si tokoh figuran yang menonjol, bukan tokoh utama.
5. Masukkan humor
Karakter yang tahu nge-joke biasanya lebih diinget pembaca. Coba deh, karakter novel JOMBLO mana yang lebih kamu inget? Yang paling rajin ngelawak kan. Tapi inget, lawakannya disesuaikan dengan latar belakang si karakter ya.
6. Batasi Keajaiban
Huhuhuhu, suka sebel nggak nonton Bawang Merah dan Bawang Putih. Sebel kan ngeliat setiap kali ada bermasalah, si bawang putih dengan entengnya dibantuin si ibu peri. Nah, kalo kamu setuju sama Ino, berarti jangan praktekkan keajaiban berlebihan ini di novel kamu. Misalnya: untuk kasus cerita tentang tokoh yang terbelit utang. Apa kamu akan membuat adegan si tokoh nemu duit seratus juta di tengah jalan? Ato dia akan memenangkan kuis berhadiah dua milyar? Kalo caranya begitu... selamat, kamu baru aja bikin novel ibu peri.
contoh lainnya, adalah cerita cinta segitiga yang rumit. begitu rumitnya sampe kamu sendiri, sebagai penulis, bingung gimana bikin endingnya. Nah, apa yang kemudian kamu lakukan? Kau bunuh salah satu karakternya. Si karakter malang itu kamu bikin mati kecelakaan/kena penyakit mematikan/ke luar negeri, dsb. Ending sih, tapi garing banget.
7. Hadapkan karakter dengan masalah yang sulit diatasi
Ini perbandingannya, mana yang lebih menarik: novel tentang cewek yang sedang menyiapkan prom dan segala tetek bengek-nya, ato novel tentang cewek yang berencana mencium guru yang ditaksirnya di malam prom. Ino lebih suka yang kedua, jujur aja. Lebih menggigit.
8. Karakter sebaiknya dikasih masalah terus-terusan
Ambillah contohnya, novel tentang cewek yang mo nyium gurunya pas prom itu.
fase 1: si cewek berencana, karena tahun ini terakhir untuknya, berencana nyium guru matematikanya pas prom. Jelas aja rencana gi.la ini dicela temen-temennya.
fase 2: si cewek ditembak temen sekelasnya. Selain itu dia juga dilema, sempat ragu begitu tahu kalo guru yang diam-diam dicintainya itu udah punya pacar.
fase tiga: akhirnya kesampaian juga si cewek nyium si guru. Biarpun di pipi, tapi setidaknya itu bakal jadi kenangan si cewek seumur hidup.
fase 1 --> fase 2 --> fase 3
Nah di antara fase satu dan fase dua kamu bisa selipkan beberapa konflik kecil-kecil, misalnya:
* debat mulut si cewek dan temennya di telepon menyangkut rencana si cewek nyium pak guru,
* pedekate cowok sekelasnya meskipun berkali-kali si cewek menghindar,
* kagetnya si cewek saat tahu tentang tunangan pak guru,
berusaha meyakinkan diri kalo itu gosip tapi akhirnya tahu dari mulut pak guru sendiri kalo dia MEMANG punya tunangan,
* si cewek nangis.
lakukan hal yang sama di sela fase 2 dan fase 3. Dan, tada, kamu jadi punya plot kuat! Bahkan, meskipun belakangan kamu ngerasa poisn-poin tertentu ada yang terlalu berlebihan ato gimana, kamu bisa cepet mengganti karena sebelumnya udah tahu konflik-konflik ini mo diarahkan ke mana.
Ingat, dear: SEBELUM MENULIS, TETAP RENCANAKAN CERITA SEPERTI APA YANG PENGEN KAMU TULIS DALAM BENTUK PLOT. Karena... selain lebih cepet, kamu juga nggak kehilangan kontrol cerita kamu. Apalagi buat yang ngerjain novelnya berdasar mood. Sebulan, ceritanya masih inget. Dua bulan? Tiga bulan? Halah... bisa-bisa tuh novel terbengkalai gitu aja di komputer karena nggak tahu lagi mo nyelesaiinnya gimana. Sayang kan?
1. Karakter utama kamu harus mengalami perubahan, minimal sekali. Tapi inget, karakter boleh mengalami perubahan, tapi jangan sampai mengubah sifat karakter tersebut.
Maksud lo, Ino? Maksud Ino niiih, dalam rentang waktu yang dibatasi plot, kamu harus membuat karakter novel kamu 'berubah', entah itu sisi psikologis, maupun fisik.
Misalnya, ambil novel Princess Diary. Di bab-bab awal, kerasa banget ya nggak pedenya si Mia Thermopolis ini? Nah, bandingin saat di bab-bab akhir. Ohh, dia jauh lebih kuat. Terlepas dia ngerasa nggak siap sebagai ahli waris tahta Genovia, buktinya dia belajar untuk KUAT dan mencoba menyukai status barunya itu. Ada PERUBAHAN kan?
Ato, novel Cintapuccino. Ami, tokoh utamanya mengalami perubahan drastis saat dia memilih Nimo ketimbang tunangannya. Itu juga PERUBAHAN.
Tapi pertanyaan Ino, di kedua novel itu, apakah sifat Mia dan Ami jadi berubah karena perubahan itu? Mia tetap nggak pede kok dengan keadaan dirinya.
2. Voice and Tone
Nah ini dia yang sering terlupakan. Kadang, saking asyiknya menulis novel, voice and tone (gaya bahasa si tokoh) suka kecampur-campur sama gaya bahasa si penulis. Pernah nggak kalian baca novel yang karakternya ancur abis (males belajar dsb) tiba-tiba ngeluarin kata-kata nasehat yang bijaksana? Ato, si karakter umurnya masih sepuluh tahun, tapi sering make kata-kata sulit? Ya dear, kalo ngerasa pernah ngelakuin itu di novel, coba deh dicek. Jangan-jangan di tengah cerita, karakter novelmu pelan-pelan bermetamorfosis jadi... kayak kamu! Aduh, gawat itu.
3. Tokoh harus menghadapi sendiri masalahnya dalam cerita
Dengan kata lain, jangan menggunakan tokoh lain untuk menyelesaikan masalah si tokoh. Misalnya, si tokoh terbelit hutang. Nah, kamu malah membuat si karakter akhirnya dibantu sama bokapnya. Dijamin, kalo kamu nulis seperti ini, pembaca bakal mencak-mencak. Mikirnya kira-kira begini, Ahhh, pantes aja masalahnya selesai... dibantuin bokapnya sih! Pembaca seneng tokoh yang mandiri dan kuat, paling enggak mengatasi masalahnya sendiri.
4. Jangan terpaku sama tokoh utama
Itulah gunanya tokoh pembantu a.ka figuran. Jadi backup saat masalah si tokoh utama sedang dalam situasi cooling down. Tapi jangan melebar juga. Nah, di sinilah plot kamu berguna. Jadi kamu bisa memperkirakan berapa bab kamu akan membahas masalah si tokoh figuran. Sebaiknya jangan terlalu lama dan berbelit-belit, jadinya malah si tokoh figuran yang menonjol, bukan tokoh utama.
5. Masukkan humor
Karakter yang tahu nge-joke biasanya lebih diinget pembaca. Coba deh, karakter novel JOMBLO mana yang lebih kamu inget? Yang paling rajin ngelawak kan. Tapi inget, lawakannya disesuaikan dengan latar belakang si karakter ya.
6. Batasi Keajaiban
Huhuhuhu, suka sebel nggak nonton Bawang Merah dan Bawang Putih. Sebel kan ngeliat setiap kali ada bermasalah, si bawang putih dengan entengnya dibantuin si ibu peri. Nah, kalo kamu setuju sama Ino, berarti jangan praktekkan keajaiban berlebihan ini di novel kamu. Misalnya: untuk kasus cerita tentang tokoh yang terbelit utang. Apa kamu akan membuat adegan si tokoh nemu duit seratus juta di tengah jalan? Ato dia akan memenangkan kuis berhadiah dua milyar? Kalo caranya begitu... selamat, kamu baru aja bikin novel ibu peri.
contoh lainnya, adalah cerita cinta segitiga yang rumit. begitu rumitnya sampe kamu sendiri, sebagai penulis, bingung gimana bikin endingnya. Nah, apa yang kemudian kamu lakukan? Kau bunuh salah satu karakternya. Si karakter malang itu kamu bikin mati kecelakaan/kena penyakit mematikan/ke luar negeri, dsb. Ending sih, tapi garing banget.
7. Hadapkan karakter dengan masalah yang sulit diatasi
Ini perbandingannya, mana yang lebih menarik: novel tentang cewek yang sedang menyiapkan prom dan segala tetek bengek-nya, ato novel tentang cewek yang berencana mencium guru yang ditaksirnya di malam prom. Ino lebih suka yang kedua, jujur aja. Lebih menggigit.
8. Karakter sebaiknya dikasih masalah terus-terusan
Ambillah contohnya, novel tentang cewek yang mo nyium gurunya pas prom itu.
fase 1: si cewek berencana, karena tahun ini terakhir untuknya, berencana nyium guru matematikanya pas prom. Jelas aja rencana gi.la ini dicela temen-temennya.
fase 2: si cewek ditembak temen sekelasnya. Selain itu dia juga dilema, sempat ragu begitu tahu kalo guru yang diam-diam dicintainya itu udah punya pacar.
fase tiga: akhirnya kesampaian juga si cewek nyium si guru. Biarpun di pipi, tapi setidaknya itu bakal jadi kenangan si cewek seumur hidup.
fase 1 --> fase 2 --> fase 3
Nah di antara fase satu dan fase dua kamu bisa selipkan beberapa konflik kecil-kecil, misalnya:
* debat mulut si cewek dan temennya di telepon menyangkut rencana si cewek nyium pak guru,
* pedekate cowok sekelasnya meskipun berkali-kali si cewek menghindar,
* kagetnya si cewek saat tahu tentang tunangan pak guru,
berusaha meyakinkan diri kalo itu gosip tapi akhirnya tahu dari mulut pak guru sendiri kalo dia MEMANG punya tunangan,
* si cewek nangis.
lakukan hal yang sama di sela fase 2 dan fase 3. Dan, tada, kamu jadi punya plot kuat! Bahkan, meskipun belakangan kamu ngerasa poisn-poin tertentu ada yang terlalu berlebihan ato gimana, kamu bisa cepet mengganti karena sebelumnya udah tahu konflik-konflik ini mo diarahkan ke mana.
Ingat, dear: SEBELUM MENULIS, TETAP RENCANAKAN CERITA SEPERTI APA YANG PENGEN KAMU TULIS DALAM BENTUK PLOT. Karena... selain lebih cepet, kamu juga nggak kehilangan kontrol cerita kamu. Apalagi buat yang ngerjain novelnya berdasar mood. Sebulan, ceritanya masih inget. Dua bulan? Tiga bulan? Halah... bisa-bisa tuh novel terbengkalai gitu aja di komputer karena nggak tahu lagi mo nyelesaiinnya gimana. Sayang kan?
Tuesday, January 30, 2007
Bab Pembuka yang Oke ~ part 2
Uhum, satu lagi info bermanfaat...
Taken from "Pulau Penulis Indosiar"
lil_yaaa said...
g penah nemuin novel ato cerita yg diawali dengan keadaan alam. mnrt kalian gmn? misal nih : pagi ini matahari bersinar cerah dsb dsb.
Ino said...
Saran Ino sih--dan biar nggak dicela penulis bukyu ituw, he he he he--hindari kalimat awal 'matahari bersinar'. Kamu kan bisa mendeskripsikan suasana dengan cara lain.
Langit terlihat sangat gelap ketika pemakaman Wulan, tunanganku usai. Beberapa kerabat mulai membuka payungnya masing-masing.
Aku menebarkan pandangan pada wajah mereka satu persatu. Orang bilang, upacara kematian adalah sebuah ajang pertemuan, di mana semua orang berkumpul dan mengenang seseorang yang pegi meninggalkan kita. (Cinta Pertama)
bisa kan diubah jadi begini:
Hitam adalah warna kematian.
Di hari pemakaman Wulan, tunanganku, menda.dak dunia menjadi redup dan sewarna. Payung hitam. Pakaian hitam. Peti mati bercat hitam. Aku lalu berpikir, jangan-jangan semua mengenakan warna hitam supaya terlihat ikut bersimpati--padahal tidak. Di balik penampilan serba hitam para pelayat, tidak ada yang bisa menyaingi kesedihan orangtua Wulan. Beberapa malah berbisik-bisik, jelas sekali tidak sedang membahas kematian Wulan.
Ternyata benar. Aku pernah mendengar orang bilang, upacara kematian adalah ajang pertemuan--malah, ironisnya, pertemuan seluruh anggota keluarga.
Aku menengadah saat mendengar gemuruh serak di langit. Paling tidak, langit tidak munafik, dia benar-benar memperlihatkan kesedihannya hari ini. Sebentar lagi bakal hujan, mencurahkan jutaan tetes air ke bumi. Seperti air mata orangtua yang menangisi kepergian Wulan.
Wulan... tunanganku. Meskipun sebagian dari diriku berusaha mengikhlaskan kepergiannya, aku tak bisa menyangkal, ada bagian dari diriku yang tidak menerima takdir kejam yang diturunkan Tuhan atas kami.... dst
Taken from "Pulau Penulis Indosiar"
lil_yaaa said...
g penah nemuin novel ato cerita yg diawali dengan keadaan alam. mnrt kalian gmn? misal nih : pagi ini matahari bersinar cerah dsb dsb.
Ino said...
Saran Ino sih--dan biar nggak dicela penulis bukyu ituw, he he he he--hindari kalimat awal 'matahari bersinar'. Kamu kan bisa mendeskripsikan suasana dengan cara lain.
Langit terlihat sangat gelap ketika pemakaman Wulan, tunanganku usai. Beberapa kerabat mulai membuka payungnya masing-masing.
Aku menebarkan pandangan pada wajah mereka satu persatu. Orang bilang, upacara kematian adalah sebuah ajang pertemuan, di mana semua orang berkumpul dan mengenang seseorang yang pegi meninggalkan kita. (Cinta Pertama)
bisa kan diubah jadi begini:
Hitam adalah warna kematian.
Di hari pemakaman Wulan, tunanganku, menda.dak dunia menjadi redup dan sewarna. Payung hitam. Pakaian hitam. Peti mati bercat hitam. Aku lalu berpikir, jangan-jangan semua mengenakan warna hitam supaya terlihat ikut bersimpati--padahal tidak. Di balik penampilan serba hitam para pelayat, tidak ada yang bisa menyaingi kesedihan orangtua Wulan. Beberapa malah berbisik-bisik, jelas sekali tidak sedang membahas kematian Wulan.
Ternyata benar. Aku pernah mendengar orang bilang, upacara kematian adalah ajang pertemuan--malah, ironisnya, pertemuan seluruh anggota keluarga.
Aku menengadah saat mendengar gemuruh serak di langit. Paling tidak, langit tidak munafik, dia benar-benar memperlihatkan kesedihannya hari ini. Sebentar lagi bakal hujan, mencurahkan jutaan tetes air ke bumi. Seperti air mata orangtua yang menangisi kepergian Wulan.
Wulan... tunanganku. Meskipun sebagian dari diriku berusaha mengikhlaskan kepergiannya, aku tak bisa menyangkal, ada bagian dari diriku yang tidak menerima takdir kejam yang diturunkan Tuhan atas kami.... dst
Tips Bab Pembuka yang Oke !
Taken from "Pulau Penulis Indosiar" posted by : Christian Simamora alias ino2cent
INO!
1) USAHAKAN jangan menjadikan adegan bangun pagi sebagai novel pembuka. Selain karena membosankan, biasanya pembuka 'bangun pagi' dilanjutkan dengan adegan 'terlambat', terus 'dimarahi guru killer' dsb. Terlalu biasa.
2) beberapa penulis malah memakai trik membuat konflik di bab pembuka. Konflik yang dipilih nggak terlalu gede tapi bisa membawa pembaca ke konflik utama.
Trik ini bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah membuat kalimat seruan di baris pertama.
Mis: HEH!! Pindah rumah?!" pekik Tom keras, dengan sukses membuat seisi kantin sekolah menoleh pada rambut keritingnya. Sambil nahan malu, Tom balik duduk, masih saja memandangi cewek yang duduk di depannya. (Cowokku Pangeran Kodok--Della Nova)
3) Jangan membuat deskripsi semua karakter di bab awal. Oke, maunya memang biar pembaca gampang mengenali siapa aja tokoh-tokoh yang terlibat dalam cerita, tapi perlu diketahui cara seperti itu malah mematikan minat pembaca membuka halaman berikutnya karena terlanjur 'capek' mencerna keterangan bab awal.
4) Kamu juga bisa meniru trik penulis berita di koran yang memaparkan rangkuman beritanya di kalimat-kalimat awal.
Hari ini aku resmi putus dengan Daniel. Aku nggak menyangka bisa menerimanya lebih kuat daripada yang kuduga sebelumnya. Kupikir aku akan menangis. Menghabiskan sekotak tisu seperti Tita di Eiffel... I'm In Love. Kupikir aku akan mengurung diri di kamar dan jauh dari peradaban selama berhari-hari.
Kupikir aku akan hancur.
Yah, aku akui aku memang agak shock saat Daniel melambaikan bendera 'putus' padaku saat makan siang tadi. Aku bahkan nggak dapat firasat--aku jadi meragukan intuisi wanitaku karena ini--sama sekali. Suasananya benar-benar nggak mengarah adegan putus; kami hanya akan makan siang berdua di kantin kampus, bercerita tentang hari kami masing-masing, tertawa karena lelucon ringan dan berjanji menelepon sepulangnya dari kampus. Seperti biasanya aja. ... dst.
5) Mulai dengan hal-hal yang kontroversial.
Before I steal, I pray. Saint of Kleptomaniacs, forgive me. That's all. I don't think it's necessary to waste the Saint's time with lame excuses about how society or New York or your parents are making you do it. They know you're weak, original sin and all that. For me stealing is like love: I know it when I see it. (She'll Take It--Mary Carter)
6) Konflik batin
Apakah Anda menilai diri Anda stres?
Tidak, aku tidak stres.
Aku... sibuk. Banyak kok orang yang sibuk. Memang begitulah hidup. Aku punya pekerjaan yang bergengsi, karierku sangat penting untukku, dan aku menikmatinya.
Oke, Memang kadang kala aku agak tegang. Agak tertekan. Tapi please deh, aku ini pengacara di City. Mau bagaimana lagi? (The Undomestic Goddess--Sophie Kinsella)
INO!
1) USAHAKAN jangan menjadikan adegan bangun pagi sebagai novel pembuka. Selain karena membosankan, biasanya pembuka 'bangun pagi' dilanjutkan dengan adegan 'terlambat', terus 'dimarahi guru killer' dsb. Terlalu biasa.
2) beberapa penulis malah memakai trik membuat konflik di bab pembuka. Konflik yang dipilih nggak terlalu gede tapi bisa membawa pembaca ke konflik utama.
Trik ini bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah membuat kalimat seruan di baris pertama.
Mis: HEH!! Pindah rumah?!" pekik Tom keras, dengan sukses membuat seisi kantin sekolah menoleh pada rambut keritingnya. Sambil nahan malu, Tom balik duduk, masih saja memandangi cewek yang duduk di depannya. (Cowokku Pangeran Kodok--Della Nova)
3) Jangan membuat deskripsi semua karakter di bab awal. Oke, maunya memang biar pembaca gampang mengenali siapa aja tokoh-tokoh yang terlibat dalam cerita, tapi perlu diketahui cara seperti itu malah mematikan minat pembaca membuka halaman berikutnya karena terlanjur 'capek' mencerna keterangan bab awal.
4) Kamu juga bisa meniru trik penulis berita di koran yang memaparkan rangkuman beritanya di kalimat-kalimat awal.
Hari ini aku resmi putus dengan Daniel. Aku nggak menyangka bisa menerimanya lebih kuat daripada yang kuduga sebelumnya. Kupikir aku akan menangis. Menghabiskan sekotak tisu seperti Tita di Eiffel... I'm In Love. Kupikir aku akan mengurung diri di kamar dan jauh dari peradaban selama berhari-hari.
Kupikir aku akan hancur.
Yah, aku akui aku memang agak shock saat Daniel melambaikan bendera 'putus' padaku saat makan siang tadi. Aku bahkan nggak dapat firasat--aku jadi meragukan intuisi wanitaku karena ini--sama sekali. Suasananya benar-benar nggak mengarah adegan putus; kami hanya akan makan siang berdua di kantin kampus, bercerita tentang hari kami masing-masing, tertawa karena lelucon ringan dan berjanji menelepon sepulangnya dari kampus. Seperti biasanya aja. ... dst.
5) Mulai dengan hal-hal yang kontroversial.
Before I steal, I pray. Saint of Kleptomaniacs, forgive me. That's all. I don't think it's necessary to waste the Saint's time with lame excuses about how society or New York or your parents are making you do it. They know you're weak, original sin and all that. For me stealing is like love: I know it when I see it. (She'll Take It--Mary Carter)
6) Konflik batin
Apakah Anda menilai diri Anda stres?
Tidak, aku tidak stres.
Aku... sibuk. Banyak kok orang yang sibuk. Memang begitulah hidup. Aku punya pekerjaan yang bergengsi, karierku sangat penting untukku, dan aku menikmatinya.
Oke, Memang kadang kala aku agak tegang. Agak tertekan. Tapi please deh, aku ini pengacara di City. Mau bagaimana lagi? (The Undomestic Goddess--Sophie Kinsella)
Gagas Bikin Genre Baru !!!
Berita untuk para penulis...
Taken from "Pulau Penulis Indosiar" posted by : Christian Simamora alias ino2cent
Hi hi hi hi... Ino cuma mo bilang aja nih. Mulai tahun ini GagasMedia ngeluarin genre baru yang namanya Candy Romance. Seperti namanya, Candy Romance itu PURE romance. Kalo kamu salah satu di antara penulis yang sukaaa banget nulis cerita romantis dan merasa layak jadi THE NEXT MIRA W ato THE NEXT MARGA T, berarti kamu cocok dong buat ngisi genre ini. Syaratnya udah:
Naskah diketik (jangan tulis tangan ya, Say).
Panjang naskah 60-70 halaman, spasi 1 Times News Roman 12.
Sertain biodata dan sinopsis naskah kamu.
Kirimkan ke Redaksi GagasMedia Jalan Haji Montong No. 57 Ciganjur-Jagakarsa Jakarta Selatan 12630
Ingat: di amplop tulis CANDY ROMANCE
Akhirnya... ada genre khusus buat kita penyuka romance. HORE!
Taken from "Pulau Penulis Indosiar" posted by : Christian Simamora alias ino2cent
Hi hi hi hi... Ino cuma mo bilang aja nih. Mulai tahun ini GagasMedia ngeluarin genre baru yang namanya Candy Romance. Seperti namanya, Candy Romance itu PURE romance. Kalo kamu salah satu di antara penulis yang sukaaa banget nulis cerita romantis dan merasa layak jadi THE NEXT MIRA W ato THE NEXT MARGA T, berarti kamu cocok dong buat ngisi genre ini. Syaratnya udah:
Naskah diketik (jangan tulis tangan ya, Say).
Panjang naskah 60-70 halaman, spasi 1 Times News Roman 12.
Sertain biodata dan sinopsis naskah kamu.
Kirimkan ke Redaksi GagasMedia Jalan Haji Montong No. 57 Ciganjur-Jagakarsa Jakarta Selatan 12630
Ingat: di amplop tulis CANDY ROMANCE
Akhirnya... ada genre khusus buat kita penyuka romance. HORE!
Subscribe to:
Posts (Atom)